Newsline.id — Target ambisius telah ditetapkan: pemerintah Indonesia berencana menghentikan penjualan mobil berbahan bakar bensin pada tahun 2035, sebagai bagian dari komitmen menuju net zero emission pada 2060. Tapi muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat dan pelaku industri otomotif: apakah kita benar-benar siap?
Langkah-Langkah Awal Sudah Dimulai
Pemerintah sudah mulai membuka jalan. Melalui Perpres No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik, Indonesia mendorong percepatan penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB). Produsen otomotif global seperti Hyundai, Wuling, hingga BYD telah membangun pabrik atau mengekspansi pasar EV mereka di Tanah Air. Bahkan, produksi baterai dalam negeri pun mulai dikembangkan melalui kolaborasi BUMN dan investor asing.
Namun, target 2035 bukan hanya soal suplai mobil listrik. Ini menyangkut seluruh ekosistem: infrastruktur, regulasi, kesiapan konsumen, dan harga yang terjangkau.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tantangan Besar: Infrastruktur Masih Belum Merata
Salah satu tantangan utama adalah infrastruktur pengisian daya. Hingga 2025, SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) masih terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Di luar itu? Masih sangat terbatas. Bayangkan jika seluruh mobil bensin harus diganti, tapi akses ke charger publik belum tersedia merata — terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
Harga dan Daya Beli: EV Masih Barang Mewah bagi Banyak Orang
Meski harga EV terus turun secara global, di Indonesia, mobil listrik masih tergolong mahal bagi mayoritas masyarakat. Subsidi dan insentif fiskal dari pemerintah memang membantu, tapi belum cukup signifikan untuk menjadikan EV sebagai pilihan utama kalangan menengah ke bawah — kelompok yang saat ini menjadi pengguna terbesar kendaraan bermotor.
Industri Otomotif Lokal: Siap atau Terpaksa?
Sektor otomotif dalam negeri masih didominasi mobil bermesin konvensional. Pabrikan besar seperti Toyota, Honda, dan Mitsubishi memang mulai memperkenalkan varian EV atau hybrid, tapi sebagian besar dari mereka juga masih sangat bergantung pada penjualan mobil bensin.
Jika peralihan dilakukan terlalu cepat tanpa strategi transisi yang matang, industri dalam negeri bisa terpukul, termasuk jutaan pekerja di sektor manufaktur, distribusi, dan bengkel konvensional.
Ada Kemajuan, Tapi Butuh Akselerasi
Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam mempercepat adopsi EV:
-
Pajak kendaraan EV lebih rendah
-
Bebas ganjil genap di beberapa kota
-
Percepatan konversi motor bensin ke listrik
-
Keterlibatan swasta dalam membangun ekosistem baterai
Namun, semuanya masih dalam fase awal. Target 2035 hanya 10 tahun lagi. Artinya, waktu kita tidak banyak, sementara pekerjaan rumah masih besar.
Siap Secara Niat, Belum Sepenuhnya Siap Secara Sistem
Menghapus mobil bensin pada 2035 bukan hal mustahil, tapi belum sepenuhnya realistis jika dilihat dari kondisi saat ini. Perlu roadmap yang lebih konkret, insentif yang menyentuh semua kalangan, dan investasi infrastruktur yang masif — tidak hanya di kota besar, tapi juga ke daerah-daerah terpencil.
Indonesia sudah menuju ke arah yang benar. Tapi untuk benar-benar siap pada 2035, kita perlu berlari, bukan hanya berjalan.(******)








