ISEN MULANG: PANTANG MATI DI ERA ALGORITMA

Friday, 22 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam rangka Hari Jadi Provinsi Kalimantan Tengah ke-69, Pemprov menggelar l FBIM (Festival Budaya Isen MUlang) 2026 berlangsung di Palangka Raya, pada 17-23 Mei 2026. (Istimewa)

Dalam rangka Hari Jadi Provinsi Kalimantan Tengah ke-69, Pemprov menggelar l FBIM (Festival Budaya Isen MUlang) 2026 berlangsung di Palangka Raya, pada 17-23 Mei 2026. (Istimewa)

“Ketika sebuah kata perang kuno dari hutan Kalimantan memaksa dunia menoleh”

PALANGKA RAYA, newsline.id – Bayangkan ini: Minggu pagi, 17 Mei 2026. Seorang perempuan Denmark bernama Annemette berdiri di tengah kerumunan di Palangka Raya, keringat membasahi punggungnya, matahari tropis menghantam tanpa ampun — dan ia tersenyum seperti orang yang baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Ia tidak tahu adat Dayak. Ia tidak bisa membaca aksara Sangen. Yang ia tahu hanyalah sebuah video berdurasi 47 detik yang muncul di beranda media sosialnya tiga minggu lalu — kostum manik berkilau, bulu enggang bergoyang, dentum gendang yang seolah keluar dari perut bumi. Satu klik. Satu tiket pesawat. Dan kini ia ada di sini, diajak berparade mengelilingi kota bersama ribuan orang yang bahkan namanya pun tidak ia hafal.

ADVERTISEMENT

banner BCChost

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini bentuk wisata budaya paling jujur yang pernah saya saksikan,” katanya, matanya berbinar bukan karena kamera, tapi karena sungguh-sungguh terkejut.  Inilah kekuatan yang sedang terjadi di Bumi Tambun Bungai.

lv 0 20260522005805
Tidak ketinggalan Ibu Ny. Aisyah Thisia Agustiar Sabran, Ketua TP PKK Provinsi Kalteng, mendampingi Bapak Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, di FBIM 2026.

Sebuah Kata yang Lahir di Medan Perang

Jauh sebelum ada internet, jauh sebelum ada gawai, ada sebuah kata yang diucapkan para leluhur Dayak ketika nyawa adalah taruhannya: Isen Mulang. Dari bahasa Sangen — bahasa para dewa, bukan manusia biasa — kata ini berarti satu hal yang sangat sederhana dan sangat brutal: pantang mundur.

Bukan pantang mundur dalam pengertian motivasi poster kantor. Ini pantang mundur dalam konteks perang sungguhan. Ketika kampung diancam, ketika anak-anak harus dilindungi, ketika identitas sebuah bangsa dipertaruhkan.

Jurnalis Senior Kalteng yang juga Pemerhati Sosial dan Budaya Dayak, Hartany Soekarno, punya cara yang elegan untuk menjelaskan bagaimana kata itu bertahan hingga 2026: “Maknanya direvitalisasi. Bukan dihapus, bukan dipoles jadi manis — tapi ditransplantasi ke zaman yang berbeda dengan akar yang sama.”
Dan zaman yang berbeda itu bernama: era kecerdasan buatan, konten viral, dan perhatian manusia yang mati setelah tiga detik.

Ketika Jurnalis Menjadi Juru Perang Budaya

Yang terjadi di Bundaran Besar Talawang pada pagi itu bukan sekadar karnaval. Ini adalah operasi budaya berskala besar yang dijalankan dengan presisi militer — hanya senjatanya berupa lensa kamera dan koneksi 5G.

Baca JUga  Dari Meja Kayu ke Podium Nasional, ORADO Kalteng Menyatakan Perang Terhadap Stigma
lv 0 20260522005700
Semarak Karnaval Budaya mewarnai pembukaan Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah.
Beragam penampilan seni dan budaya dari berbagai daerah turut memeriahkan rangkaian kegiatan sebagai bentuk pelestarian budaya dan kearifan lokal Kalimantan Tengah.

Ribuan jurnalis dari media online nasional berjejal di pinggir jalan, bukan untuk meliput, tapi untuk menghidupkan. Mereka bukan lagi pencerita yang berdiri di pinggir panggung — mereka adalah panggung itu sendiri.

Setiap video yang diunggah, setiap caption yang diketik, setiap tagar yang ditekan — itu semua adalah anak panah yang diluncurkan ke jagat maya, menembus algoritma, mendarat di beranda jutaan orang yang tidak pernah mendengar nama Palangka Raya sebelumnya dan berhasil.

Festival Budaya Isen Mulang 2026 meledak secara global. Bukan karena anggaran promosi raksasa. Bukan karena endorser selebriti. Tapi karena sebuah ekosistem baru lahir: kolaborasi organik antara jurnalisme modern dan kecintaan pada tanah leluhur.

Gubernur Agustiar Sabran menyebutnya dengan nada yang terdengar seperti deklarasi: “Festival ini bukan lagi milik warga Kalimantan Tengah saja. Ia telah diakui di tingkat nasional dan internasional.”

Itu bukan klaim kosong. Festival ini resmi masuk dalam jajaran Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 — kurasi paling ketat yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata untuk festival-festival terbaik Indonesia. Tidak semua lolos. FBIM lolos.

Bola Api, Rotan, dan Pertempuran Kreativitas

Di luar retorika dan geopolitik budaya, ada hal-hal konkret yang membuat dunia berhenti scroll dan mulai menonton:
Seorang atlet sepak sawut menendang bola yang sedang terbakar. Bukan metafora. Bola itu sungguh-sungguh menyala. Dan ia menendangnya dengan kaki telanjang dengan ekspresi yang lebih tenang dari orang yang sedang menonton TV.

lv 0 20260522005716
Semarak Karnaval Budaya mewarnai pembukaan Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah.
Beragam penampilan seni dan budaya dari berbagai daerah turut memeriahkan rangkaian kegiatan sebagai bentuk pelestarian budaya dan kearifan lokal Kalimantan Tengah.

Di sudut lain, jari-jari perempuan tua bergerak seperti doa  menganyam rotan dalam kompetisi manjawet uwei, sebuah keahlian yang butuh puluhan tahun untuk dikuasai, kini diabadikan dalam video berdurasi satu menit yang ditonton ratusan ribu kali.

Ada pula manyipet — olahraga berburu dengan sumpit — yang dalam kontestasi FBIM diikuti dengan ketegangan yang tidak kalah dari pertandingan panahan olimpiade. Dan habayang, permainan rakyat yang aturannya tidak akan kamu temukan di Google, tapi yang tawanya bisa kamu dengar dari ujung lapangan.

Baca JUga  Menyalakan Kembali Api Huma Betang, Ketika Rumah Panjang Bukan Lagi Sebatas Ukiran Kayu

Empat belas kabupaten dan kota se-Kalimantan Tengah turun ke jalan dengan ego masing-masing yang dikemas menjadi keindahan. Pulang Pisau membawa Burung Tingang — burung suci yang dalam kosmologi Dayak setara dengan elang dalam mitologi Yunani. Katingan membawa replika alam dan pesan lingkungan yang lebih tajam dari banyak pidato konferensi iklim internasional.

Di Balik Semarak, Ada Luka yang Tidak Boleh Diam

Tapi jurnalisme yang baik tidak hanya merayakan. Ia juga bertanya.
Di balik gemerlap kostum dan sorak penonton, ada kenyataan yang lebih sunyi: hutan-hutan yang menyempit, sungai-sungai yang berubah wajah, dan mata pencarian yang menghilang bersama lanskapnya. Masyarakat adat Dayak tidak hanya mewarisi budaya yang indah — mereka juga mewarisi tekanan yang nyata, setiap hari.

FBIM 2026, dalam genggaman media yang kritis, justru menjadi panggung untuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman itu. Pj Sekda Linae Victoria Aden menyebutnya sebagai “ruang diplomasi budaya” — dan dalam konteks itu, diplomasi bukan hanya soal memperkenalkan tari tradisional kepada turis asing. Ini soal menegosiasikan hak hidup sebuah peradaban di tanah mereka sendiri.
Ekonomi kreatif bukan pelarian. Ia adalah strategi bertahan yang bermartabat.

Dari Tahun 1990-an ke Beranda Dunia

Festival ini lahir di awal dekade 1990-an — sederhana, lokal, konsisten. Setiap tahun 23 Mei, ada perayaan. Ada tari. Ada lomba. Ada rasa bangga yang tidak perlu ditonton siapapun untuk tetap bernilai.

Tapi dunia berubah. Dan alih-alih bertahan dengan cara lama, festival ini memilih berevolusi — tanpa kehilangan jiwanya.

Kini FBIM adalah instrumen resmi Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia dan Bangga Berwisata di Indonesia. Setelah karnaval, media mengarahkan penonton ke Taman Nasional Sebangau, ke susur Sungai Kahayan, ke kerajinan tangan autentik di Kalteng Expo. Bukan sekadar festival — ini adalah ekosistem pariwisata yang hidup.

Satu Pesan untuk Dunia yang Mudah Lupa

Annemette dari Denmark sudah pulang ke negaranya. Tapi videonya masih beredar. Wajahnya yang penuh keheranan masih muncul di beranda orang-orang yang belum pernah — dan mungkin tidak pernah — menginjakkan kaki di Kalimantan.

Itu adalah warisan yang tidak ternilai: bukan sekadar dokumentasi festival, tapi bukti bahwa sebuah kata perang kuno bisa mengarungi algoritma, menembus batas bahasa, dan mendarat di hati seseorang yang bahkan tidak tahu harus mencarinya.

Isen Mulang. Pantang mundur — bahkan ketika musuhnya adalah keacuhan dunia.

Di Bumi Tambun Bungai, kebudayaan tidak menunggu untuk ditemukan. Ia melangkah maju, menyalakan bola api, dan menendangnya tepat ke wajah modernitas. (*)

Tim Newsline 

Berita Terkait

Kontradiksi Istana Isen Mulang; Gubernur Agustiar Buka Keran Informasi, Oknum Pejabat Kalteng Masih Alergi Wartawan
Menyalakan Kembali Api Huma Betang, Ketika Rumah Panjang Bukan Lagi Sebatas Ukiran Kayu
Dari Meja Kayu ke Podium Nasional, ORADO Kalteng Menyatakan Perang Terhadap Stigma
Heboh Jalur Sepeda Biru Memudar, Benarkah Harta Kadis PUPR Kalteng Hanya Rp2,03 Miliar
Badai PHK Hantam Kalteng, Disnaker Jangan Jadi ‘Penonton’ Saat Hak Buruh Dikebiri
Legislator Desak PUPR Kalteng Perbaikan Jalan HM Arsyad Sampit Sebelum Nyawa Kembali Melayang
Gebrakan Magister Baru UMPR, Bukan Sekadar Gelar, Tapi Menjadi ‘Problem Solver’ bagi Kalimantan Tengah
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Saturday, 23 May 2026 - 18:41 WITA

Kontradiksi Istana Isen Mulang; Gubernur Agustiar Buka Keran Informasi, Oknum Pejabat Kalteng Masih Alergi Wartawan

Saturday, 23 May 2026 - 15:42 WITA

Menyalakan Kembali Api Huma Betang, Ketika Rumah Panjang Bukan Lagi Sebatas Ukiran Kayu

Friday, 22 May 2026 - 10:32 WITA

Dari Meja Kayu ke Podium Nasional, ORADO Kalteng Menyatakan Perang Terhadap Stigma

Friday, 22 May 2026 - 02:20 WITA

ISEN MULANG: PANTANG MATI DI ERA ALGORITMA

Wednesday, 20 May 2026 - 15:35 WITA

Heboh Jalur Sepeda Biru Memudar, Benarkah Harta Kadis PUPR Kalteng Hanya Rp2,03 Miliar

Berita Terbaru

Dalam rangka Hari Jadi Provinsi Kalimantan Tengah ke-69, Pemprov menggelar l FBIM (Festival Budaya Isen MUlang) 2026 berlangsung di Palangka Raya, pada 17-23 Mei 2026. (Istimewa)

KALIMANTAN TENGAH

ISEN MULANG: PANTANG MATI DI ERA ALGORITMA

Friday, 22 May 2026 - 02:20 WITA