Camat Serteng Turun Tangan, Dinas PUPR Seruyan Hilang Tanpa Kabar

Friday, 29 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SERUYAN TENGAH, newsline.id — Pagi itu, bukan suara rapat dinas yang memecah sunyi hutan Kalimantan. Yang terdengar adalah raungan bulldozer — milik seorang warga biasa bernama Ibu Selvi.
Di belakang mesin itu, berdiri seorang camat, seorang tokoh adat, seorang lurah, dan puluhan warga yang sudah jengah menunggu. Mereka membabat hutan. Mereka membuka jalan. Mereka mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh negara.

Jumat, 29 Mei 2026. Kelurahan Rantau Pulut, Kecamatan Seruyan Tengah, Kabupaten Seruyan. Sebuah adegan yang seharusnya tidak pernah terjadi di negara dengan anggaran infrastruktur triliunan rupiah, terulang kembali dan kali ini, ada cukup banyak saksi mata untuk memastikan dunia tahu.

Camat Seruyan Tengah Inata Panderova turun langsung ke lapangan. Di sampingnya, Damang (pemimpin adat) Abdul Rahman dan Lurah Edy Sumarno. Di belakang mereka, warga yang bahkan rela menghibahkan tanah milik mereka sendiri secara cuma-cuma, agar sebuah jalan baru sepanjang 2,5 kilometer bisa terwujud. Bahan bakar untuk tujuh hari Ditanggung warga. Alat berat Pinjaman pribadi. Anehnya Anggaran pemerintah, Entah ke mana.

ADVERTISEMENT

banner BCChost

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini bukan keluhan baru. Ini adalah luka lama yang sengaja dibiarkan menganga. Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Toga Hamonangan Nadeak, menyebut angka yang sulit dicerna: ruas jalan provinsi penghubung Amin Jaya–Rantau Pulut telah rusak sejak 2016. Satu dekade. Tiga periode anggaran. Puluhan rapat koordinasi. Dan jalan itu tetap kubangan lumpur.

Baca JUga  Menanti Bukti di Tanah Seruyan: Ketika Sekolah Rakyat Hanya Jadi 'Omon-Omon' Politik dan Lahan Masih Gaib

Yang lebih menyakitkan, untuk bertahan, warga dan sopir truk harus patungan tambal jalan sendiri. Pemilik mobil pribadi setor Rp500 ribu. Pemilik truk setor Rp1 juta. Bukan untuk membeli sembako. Bukan untuk biaya sekolah. Tapi untuk menambal lubang yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.

“Tidak ada yang namanya perhatian dari pemerintah provinsi sampai detik ini,” kata Toga, datar, setelah reses di wilayah itu. Kalimat pendek yang menanggung beban sepuluh tahun.
Angka 87,33 Persen dan Tawa yang Pahit
Di saat yang sama, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dengan percaya diri mengumumkan bahwa 87,33 persen jalan provinsi kini berada dalam “kondisi mantap.” Di Rantau Pulut, angka itu terdengar seperti lelucon.

Toga Nadeak tidak menyembunyikan sinismenya. “Jalan yang mantap 87,33 persen itu yang mana. Apakah hasil urunan masyarakat itu yang dihitung mantap?”

Ia menuding perbaikan yang dilakukan selama ini tak lebih dari kosmetik yang mana pengaspalan 1,5 kilometer di titik yang memang sudah rata dan mudah dijangkau kamera, sementara jalan berlumpur di pedalaman dibiarkan menelan korban diam-diam: waktu, uang, dan harapan.

Pertanyaan yang paling menusuk bukan soal anggaran yang kurang. Pertanyaan itu berbunyi lebih sederhana, dan justru karena itu lebih mematikan:

Baca JUga  Ketika Teladan Kehilangan Arah: Sisi Kelam Krisis Moral Aparatur di Seruyan

Jika Pemkab Seruyan memiliki alat berat yang dibeli dengan uang rakyat, mengapa alat itu tidak bergerak, sementara rakyat harus mengemis pinjaman kepada pihak swasta.

Tidak ada jawaban resmi yang beredar. Dinas PUPR Seruyan belum angkat bicara. Bupati Seruyan belum muncul ke publik dalam konteks ini. Dan justru keheningan itulah yang kini menjadi viral lebih keras dari pernyataan manapun.

Yang membuat situasi ini semakin ironis, ruas jalan di Seruyan Tengah dan Seruyan Hulu bukan jalan kampung biasa. Secara strategis, jalur ini berpotensi menjadi koridor interkoneksi langsung menuju Provinsi Kalimantan Barat, sebuah urat nadi ekonomi yang, jika dibangun, bisa mengubah wajah pedalaman Kalimantan.
Namun perbaikannya bahkan tidak masuk dalam rencana anggaran 2026.

Kini, Semua Menunggu Satu Nama
Camat Inata Panderova menyebut aksi gotong royong ini sebagai “langkah membuka peluang ekonomi daerah.” Kalimat yang terdengar optimis, tapi di baliknya tersimpan ironi yang menyayat, seorang camat seharusnya tidak perlu menjadi kontraktor dadakan karena dinas teknisnya tidak bekerja.

Publik kini mengarahkan satu pertanyaan ke satu alamat, Bupati Seruyan.
Bukan pertanyaan tentang visi. Bukan pertanyaan tentang program. Hanya satu,
Sampai kapan pejabat yang lelet dibiarkan menjabat, sementara rakyat membangun jalannya sendiri. Evaluasi. Copot. Atau terus diam dan biarkan sejarah mencatat sendiri jawabannya. (*)
Tim Newsline

Berita Terkait

Menggenggam Bara Transparansi, Seruyan dan Perlawanan Sunyi Melawan Korupsi
Menjaring Laba di Atas Tanah Merangsang, Ketika Subsidi Rakyat Jadi Ladang Rampok
33 Ekor Hewan Qurban dari Pemprov Kalteng Tiba di Seruyan, Siap Disalurkan ke Warga Kurang Mampu Jelang Idul Adha
Bupati Seruyan Tantang Diskoperindag Keluar dari Zona Nyaman demi Ekonomi Rakyat
HUT Kalteng ke-69: Saatnya Pemuda Seruyan Kuasai Teknologi Tanpa Kehilangan Jati Diri Adat!
Menanti Bukti di Tanah Seruyan: Ketika Sekolah Rakyat Hanya Jadi ‘Omon-Omon’ Politik dan Lahan Masih Gaib
Ketika Teladan Kehilangan Arah: Sisi Kelam Krisis Moral Aparatur di Seruyan
Seruyan Darurat Moral! Kapolres Beddy Grebek, Oknum Camat dan ASN Kehutanan Asyik Pesta Sabu
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Sunday, 31 May 2026 - 23:51 WITA

Menggenggam Bara Transparansi, Seruyan dan Perlawanan Sunyi Melawan Korupsi

Friday, 29 May 2026 - 21:44 WITA

Camat Serteng Turun Tangan, Dinas PUPR Seruyan Hilang Tanpa Kabar

Friday, 29 May 2026 - 15:50 WITA

Menjaring Laba di Atas Tanah Merangsang, Ketika Subsidi Rakyat Jadi Ladang Rampok

Tuesday, 26 May 2026 - 22:18 WITA

33 Ekor Hewan Qurban dari Pemprov Kalteng Tiba di Seruyan, Siap Disalurkan ke Warga Kurang Mampu Jelang Idul Adha

Tuesday, 26 May 2026 - 21:49 WITA

Bupati Seruyan Tantang Diskoperindag Keluar dari Zona Nyaman demi Ekonomi Rakyat

Berita Terbaru

Sabtu malam, 30 Mei 2026, pukul 23.35 WIB. Seorang mantan brigadir polisi, terpidana dengan vonis seumur hidup, ditemukan tak bernyawa di dalam kamar yang paling dijaga di seluruh kompleks penjara Lapas Kelas IIa Palangka Raya.

HUKUM & PERISTIWA

Tewas di Balik Dinding yang Paling Dijaga

Monday, 1 Jun 2026 - 02:48 WITA

PALANGKA RAYA

Ketika Pers Lupa Pancasila: Refleksi Pahit di Hari Lahir Dasar Negara

Sunday, 31 May 2026 - 13:13 WITA