Sungai Mengasin Sumur Mati: Seruyan Berlomba dengan Kemarau Sebelum Semuanya Terlambat

Thursday, 3 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUALA PEMBUANG, newsline.id – Ketika sumur mengering dan sungai berubah asin, air bersih bukan lagi kebutuhan sehari-hari tapi menjadi taruhan bertahan hidup. Itulah yang tengah dihadapi warga di sejumlah desa pesisir dan hilir Seruyan saat kemarau mencengkeram wilayah ini. Rabu (2/9/2026), Bupati Seruyan, Ahmad Selanorwanda turun langsung menyaksikan penyaluran bantuan air bersih di Desa Bangun Harja, sehari setelah kunjungan serupa di Desa Pematang Panjang, dua titik dari rangkaian respons darurat pemerintah daerah terhadap krisis yang kian meluas.

“Pemerintah hadir untuk membagikan air bersih sehubungan dengan situasi kemarau saat ini,” tegas Bupati Wanda di lokasi. Kalimat itu sederhana, tapi di baliknya ada persoalan struktural yang jauh lebih rumit ketika karakteristik pasang surut Sungai Seruyan membuat air asin merembes masuk ke sumber-sumber air warga begitu debit sungai menyusut. Sumur yang selama ini jadi andalan kini airnya ada, tapi tak layak dipakai.

Setiap titik distribusi dalam program ini menyalurkan sekitar 5.000 liter air bersih dimana angka yang terdengar besar, namun hanya cukup untuk kebutuhan mendesak sebagian kecil warga terdampak. Bupati mengakui ini baru langkah awal. Ia menginstruksikan camat dan kepala desa melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap wilayah-wilayah krisis air, agar bantuan berikutnya benar-benar tepat sasaran, bukan sekadar seremoni kunjungan pejabat.

Yang menarik, pemerintah tidak ingin memikul beban ini sendirian. Bupati secara terbuka mengajak Palang Merah Indonesia, perbankan, perusahaan, dan berbagai pemangku kepentingan untuk urun tangan. “Karena satu tangki relatif tidak terlalu mahal, sehingga bisa dibagikan kepada masyarakat,” ujarnya. Sebuah ajakan yang sekaligus menyingkap kenyataan pahit sebab anggaran daerah tak selalu sanggup menjangkau seluruh desa yang haus.

Krisis air ternyata bukan satu-satunya ancaman musim kering di Seruyan. Sepekan sebelum kunjungan itu, pada 24 Agustus 2026, Bupati Ahmad Selanorwanda telah mengirim sinyal waspada ke seluruh perusahaan perkebunan dan pemegang izin kehutanan di wilayah ini, mulai PBS-KS hingga IUPHHK-HA/HT, untuk memastikan kesiapan personel, kendaraan pemadam, dan sumber air cadangan seperti embung dan sumur bor. Batas waktu pelaporan kesiapan ditetapkan 31 Agustus 2026, lengkap dengan peta kawasan rawan dan jadwal patroli.

Peringatan itu bukan basa-basi administratif.  Hanya beberapa hari setelah tenggat itu berlalu, kebakaran benar-benar terjadi. Senin (31/8/2026) pukul 09.00 WIB, titik api dilaporkan membakar lahan di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Kuala Pembuang II, persis di koordinat 3.403097°S, 112.541087°E, kawasan yang sulit dijangkau dari darat.

Empat belas personel gabungan terdiri dari Polri, TNI, BPBD, Manggala Agni, Damkar, KPHP, hingga Marnit, bergegas ke lokasi. Namun medan menjadi musuh tersendiri karena tak ada akses jalan darat, sehingga tim terpaksa menumpang perahu motor menyusuri sungai untuk mencapai titik kebakaran, lalu memadamkan api langsung dari bibir sungai.

Baca JUga  Razia Terus, Sabu Tak Pernah Habis: Siapa yang Sebenarnya Dilindungi di Seruyan?

“Meskipun akses menuju lokasi cukup sulit dan harus menggunakan perahu motor, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi tim untuk melakukan penanganan,” ungkap IPDA Eko Andrianto, PADAL Siaga Karhutla dan Kekeringan 2026. Respons cepat ini menjadi bukti bahwa kesiapsiagaan yang diinstruksikan sejak akhir Agustus bukan sekadar surat edaran di atas kertas namun diuji langsung di lapangan, dalam hitungan hari.

Dua peristiwa, pembagian air bersih dan pemadaman kebakaran lahan, sesungguhnya adalah dua wajah dari satu krisis yang sama pada kemarau yang mengubah sungai jadi asin dan lahan jadi mudah terbakar. Keduanya menuntut kehadiran negara yang tak hanya reaktif, tapi juga terkoordinasi lintas sektor, dari pemerintah desa hingga korporasi perkebunan.

Ahmad Selanorwanda kembali mengingatkan warga agar menjaga lahan dan lingkungan masing-masing, mengingat cuaca kering dan angin kencang bisa memicu kebakaran kapan saja. Imbauan itu terdengar klise, tapi di tengah sungai yang menyusut dan api yang butuh perahu untuk dijangkau, klise itu adalah satu-satunya benteng yang tersisa sebelum musim hujan tiba.(**)

Tim Newsline ID 

Berita Terkait

Seruyan Naikkan Status Jadi Tanggap Darurat, Krisis Air Bersih dan Karhutla Mengancam Bersamaan
Cahaya dari Kuala Pembuang: Ketika Seorang Bunda Mengukuhkan Amanah untuk Menyalakan Literasi Seruyan
Menyoal Otonomi Semu di Balik Meja Kasir Rumah Sakit Daerah
Bupati Seruyan Bongkar “Zona Nyaman” Birokrasi: Jabatan Bukan Warisan, tapi Amanah yang Bisa Dicabut
Ketika Uang Nelayan Berhenti di Amplop: Cerita di Balik Rp86,7 Juta yang Disita Kejari Seruyan
Api, Asap, dan Janji: Ketika Bupati Seruyan Turun ke Titik Api
Di Bawah Terik Pantai Sungai Bakau, Perempuan Seruyan Menanam Harapan untuk Anak Cucu
Di Balik Angka Triliunan APBD Seruyan, Ada Jalan Rusak yang Masih Menunggu Realisasi
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Thursday, 17 September 2026 - 02:28 WITA

Seruyan Naikkan Status Jadi Tanggap Darurat, Krisis Air Bersih dan Karhutla Mengancam Bersamaan

Tuesday, 15 September 2026 - 19:46 WITA

Cahaya dari Kuala Pembuang: Ketika Seorang Bunda Mengukuhkan Amanah untuk Menyalakan Literasi Seruyan

Friday, 4 September 2026 - 22:35 WITA

Menyoal Otonomi Semu di Balik Meja Kasir Rumah Sakit Daerah

Friday, 4 September 2026 - 15:14 WITA

Bupati Seruyan Bongkar “Zona Nyaman” Birokrasi: Jabatan Bukan Warisan, tapi Amanah yang Bisa Dicabut

Thursday, 3 September 2026 - 12:05 WITA

Sungai Mengasin Sumur Mati: Seruyan Berlomba dengan Kemarau Sebelum Semuanya Terlambat

Berita Terbaru

Pemerintahan

Menyoal Otonomi Semu di Balik Meja Kasir Rumah Sakit Daerah

Friday, 4 Sep 2026 - 22:35 WITA