Pertarungan Tiga Tokoh Menentukan Arah Partai Beringin di Bumi Gawi Hatantiring Lima Tahun ke Depan
KUALA PEMBUANG, newsline.id — Di sebuah kabupaten yang politiknya selama ini berjalan dalam ritme tenang, Akhir Juni 2026 datang membawa denyut yang berbeda. Partai Golkar Kabupaten Seruyan bersiap menggelar Musyawarah Daerah (Musda), sebuah forum paling sakral dalam ekosistem internal partai berlambang beringin itu dan suhu politiknya sudah jauh lebih panas dari cuaca Kalimantan Tengah yang menyengat.
Informasi yang dihimpun Kalteng Newsline ID, di Kuala Pembuang, Kamis, (18/6), Tiga nama beredar kencang di lorong-lorong diskusi kader, di warung kopi tepi sungai, dan dalam percakapan senyap para fungsionaris partai. Ketiganya bukan wajah baru, Ahmad Selanorwanda, S.E., M.Si., H. Bambang Yantoko, dan Harsandi. Masing-masing membawa modal berbeda, basis dukungan berbeda, dan visi yang setidaknya dalam retorika sama-sama menjanjikan kejayaan Golkar Seruyan.
Pertanyaan yang menggantung kini bukan sekadar siapa yang menang. Pertanyaan sesungguhnya jauh lebih berat, apakah Musda ini akan melahirkan pemimpin yang menyatukan, atau justru meninggalkan luka yang menganga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
TIGA FIGUR, TIGA WAJAH KEKUATAN
Dalam peta persaingan yang terbaca dari pantauan lapangan, ketiga kandidat memiliki konfigurasi kekuatan yang nyaris tidak tumpang tindih, seolah masing-masing menguasai satu segmen krusial dari tubuh Golkar Seruyan.
Ahmad Selanorwanda duduk di puncak hierarki eksekutif daerah sebagai Bupati Seruyan. Bagi sebagian besar kader, ini bukan sekadar jabatan, ini adalah leverage politik yang nyata. Jejaring birokrasi, akses ke sumber daya pembangunan, dan tingkat pengenalan publik yang tinggi menjadikan Bupati sebagai figur dengan daya magnet elektoral terkuat. Ia adalah kader Golkar yang telah membuktikan bahwa partai ini bisa mengirimkan orang ke puncak kekuasaan eksekutif daerah. Ketika seorang bupati sekaligus menjadi ketua DPD partai, sinergitas antara mesin pemerintahan dan mesin partai bisa menjadi kombinasi mematikan baik dalam konteks positif maupun risikonya.
Namun justru di situ pula pertanyaan kritis muncul, apakah merangkap dua jabatan strategis ini akan mengoptimalkan kerja partai, atau justru menciptakan konflik kepentingan yang sulit dinavigasi.
H. Bambang Yantoko adalah cerita yang berbeda. Kader senior yang telah lama mengakar di struktur legislatif Seruyan ini bukan tipe figur yang bersinar di sorotan. Mantan Wakil Ketua 1 DPRD Seruyan dari Golkar periode 2019–2024 dan kini menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar DPRD Seruyan, Bambang adalah tipikal organisation man, orang yang paham betul bagaimana partai bekerja dari dalam, bagaimana uang dikelola, dan bagaimana basis konstituen di level desa dibina. Di kalangan kader akar rumput, nama ini sering disebut dengan respek yang lahir bukan dari kekaguman jarak jauh, melainkan dari kebersamaan bertahun-tahun di lapangan.
Pengalamannya di ranah legislatif membuatnya memahami satu hal yang sering diabaikan pemimpin partai: bahwa kemenangan pemilu bukan hanya soal mesin nasional, melainkan soal ketekunan di setiap dapil, di setiap RT, di setiap titik paling kecil dari jaringan konstituen.
Harsandi melengkapi segitiga ini dari dimensi internal organisasi. Sebagai Wakil Ketua 1 DPRD Seruyan periode 2024–2029 sekaligus Sekretaris DPD Golkar Seruyan, Harsandi adalah sosok yang berada di simpul koordinasi, tempat di mana seluruh urat nadi organisasi bertemu. Dikenal sebagai kader senior militan, ia memahami tata kelola partai bukan dari teori, melainkan dari pengalaman teknis bertahun-tahun. Dalam tubuh organisasi sebesar Golkar, figur seperti Harsandi adalah penjaga agar mesin tidak mogok, ia tahu cara mengelola konflik internal, memastikan program kerja berjalan, dan menjaga administrasi partai tidak runtuh di bawah tekanan politik.
Jika Ahmad Selanorwanda adalah the face dan Bambang Yantoko adalah the roots, maka Harsandi adalah the spine, tulang punggung yang menopang semuanya agar tetap berdiri tegak.
MUSDA LEBIH DARI SEKADAR PEMILIHAN KETUA
Golkar Seruyan sesungguhnya memasuki Musda ini bukan dalam kondisi vakum. Desember 2025 lalu, tepatnya pada 30 Desember, DPD Golkar Seruyan menggelar Pendidikan Politik dan Konsolidasi Organisasi di Gedung Serba Guna Kuala Pembuang. Kegiatan yang dihadiri jajaran pengurus, kader, hingga simpatisan dari seluruh penjuru Seruyan itu menjadi sinyal awal partai sedang mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang lebih besar.
Bupati Ahmad Selanorwanda, yang hadir dan memberikan sambutan, menyampaikan pesan yang kini terasa semakin relevan menjelang Musda. “Partai Golkar adalah partai besar yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa ini. Dalam dinamika politik, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar dan harus disikapi secara dewasa. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjaga persatuan, soliditas, dan komitmen untuk bekerja demi kepentingan rakyat,” tegasnya saat itu.
Kalimat itu kini seperti cermin yang memantulkan harapan dan kekhawatiran sekaligus, sebab dalam setiap Musda, selalu ada momen ketika “perbedaan pandangan” berpotensi melampaui batas kematangan yang diidealkan.
Agenda Musda akhir Juni 2026 ini memang tidak sempit. Selain memilih ketua definitif, forum ini juga akan membahas program kerja jangka menengah dan strategi pemenangan Golkar menghadapi agenda-agenda politik ke depan, termasuk kemungkinan pemilu yang semakin dekat. Artinya, Musda bukan sekadar pergantian kepemimpinan seremonial. Ini adalah momen di mana Golkar Seruyan mendefinisikan ulang dirinya sendiri, mau ke mana, dengan cara apa, dan dengan siapa.
HARAPAN KADER: DEMOKRASI, BUKAN DRAMA
Di balik hiruk-pikuk nama dan dukungan yang berseliweran, ada suara yang lebih tenang namun tak boleh diabaikan, suara para kader yang sesungguhnya menjadi tulang punggung Golkar di lapangan. Mereka berharap Musda kali ini tidak menjadi panggung konflik kepentingan yang menggerogoti soliditas partai dari dalam.
Harapan itu sederhana namun fundamental proses yang demokratis, pemimpin yang menyatukan, dan agenda yang berorientasi pada rakyat bukan pada ambisi perseorangan.
Golkar Seruyan membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul ketiga kekuatan yang kini tampak terpolarisasi, birokrasi dan elektoral, legislatif dan akar rumput, serta operasional internal organisasi. Pemimpin ideal bukan yang paling kuat di satu segmen, melainkan yang paling mampu menjembatani ketiganya.
Bupati Selanorwanda sendiri pernah mengingatkan “Pendidikan politik bukan hanya untuk pengurus partai, tetapi juga untuk masyarakat luas. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat akan semakin sadar bahwa politik adalah sarana untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama, bukan sekadar ajang perebutan kekuasaan.” Pesan itu berlaku dua arah, termasuk untuk dinamika internal partai yang ia pimpin.
PENENTUAN ARAH LIMA TAHUN KE DEPAN
Musda Golkar Seruyan akhir Juni 2026 nanti bukan sekadar ritual organisasi lima tahunan. Ini adalah titik infleksi. Di tengah lanskap politik nasional yang terus bergerak, Golkar sebagai partai dengan sejarah panjang dan akar yang dalam di berbagai level pemerintahan dituntut untuk terus relevan, tidak hanya sebagai kendaraan kekuasaan, tetapi sebagai entitas politik yang memiliki gagasan.
Seruyan adalah cermin kecil dari tantangan besar yang dihadapi Golkar di seluruh Indonesia, bagaimana menjaga soliditas internal di tengah persaingan figur, bagaimana mengonversi kekuatan birokrasi menjadi kepercayaan rakyat, dan bagaimana memastikan bahwa musyawarah benar-benar menjadi musyawarah, bukan sekadar prosedur legitimasi bagi keputusan yang sudah lebih dulu diambil di balik layar.
Nahkoda baru yang akan dipilih di Kuala Pembuang bulan ini akan mewarisi sebuah kapal yang masih kokoh, tetapi berlayar di perairan yang semakin tidak terprediksi.
Pertanyaannya tinggal satu, siapa yang akan memegang kemudinya dan ke mana ia akan membawa Golkar Seruyan berlayar?
Tim Newsline Id









