KUALA PEMBUANG, newsline.id – Di bawah terik matahari Minggu pagi, sekelompok perempuan berseragam menancapkan bibit pohon ke tanah pesisir Wisata Pantai Sungai Bakau, Kabupaten Seruyan. Momen sederhana itu, Minggu (23/8/2026), sesungguhnya menyimpan pertanyaan yang lebih besar, mampukah simbol seremonial penghijauan benar-benar menjelma menjadi solusi nyata bagi krisis lingkungan yang mengintai kawasan pesisir Kalimantan Tengah
Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Seruyan menggelar rangkaian kegiatan gabungan, penanaman pohon, pasar murah, dan layanan kesehatan gratis, sebagai bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Acara dibuka resmi oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Seruyan, Iwan Sumantri, S.P., M.A.P., yang hadir mewakili jajaran pemerintah kabupaten.
Dalam sambutannya, Iwan menegaskan bahwa penanaman pohon bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan lingkungan. Ia mengingatkan, manfaat dari aksi hari ini tidak akan terasa instan. Pohon yang ditanam memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar berkontribusi pada keteduhan dan kesejukan kawasan pesisir.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan itu menyentuh titik krusial yang kerap luput dari sorotan publik, keberlanjutan pasca penanaman. Di banyak daerah, aksi tanam pohon seremonial berakhir tanpa perawatan lanjutan, sehingga bibit yang ditanam mati sia-sia dalam hitungan bulan. Iwan tampak menyadari risiko ini dengan eksplisit mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada seremoni penanaman, tetapi berkomitmen merawat pohon tersebut secara berkelanjutan.
Yang membedakan kegiatan ini dari sekadar seremoni adalah dimensi ekonominya. Pasar murah yang digelar bersamaan menjadi jawaban langsung atas tekanan harga kebutuhan pokok yang dirasakan warga pesisir Seruyan.
Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten, DWP, dan berbagai mitra ini menghadirkan akses pangan terjangkau di tengah momentum kemerdekaan. Sebuah pengingat bahwa esensi kemerdekaan sejatinya juga soal kedaulatan pangan warga di tingkat akar rumput.
Dimensi ketiga, layanan kesehatan gratis, melengkapi paket kepedulian sosial hari itu. Deteksi dini penyakit dan edukasi pola hidup sehat menjadi fokus utama, sebuah langkah preventif yang penting mengingat akses layanan kesehatan berkualitas masih menjadi tantangan tersendiri di kawasan pesisir dan pedesaan Kalimantan Tengah.
Iwan Sumantri kemudian menegaskan poin filosofis yang menjadi benang merah seluruh kegiatan: pembangunan daerah tidak bisa dikerjakan sendirian. Ia menyebut kemajuan Kabupaten Seruyan sebagai tanggung jawab kolektif yang hanya bisa dicapai melalui gotong royong dan kolaborasi lintas elemen.
Semangat kolaboratif ini tercermin dari daftar panjang pihak yang terlibat, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata, hingga Dinas Kesehatan. Pemerintah kabupaten secara terbuka mengapresiasi sinergi berbagai OPD ini, sebuah pengakuan bahwa keberhasilan program lingkungan dan sosial memerlukan kerja lintas sektor, bukan inisiatif tunggal satu instansi.
Bagi DWP Kabupaten Seruyan sendiri, kegiatan ini menjadi penegasan identitas organisasi. Lewat aksi ini, DWP ingin memposisikan diri bukan hanya sebagai organisasi seremonial istri ASN, melainkan entitas yang aktif berkontribusi pada empat pilar: ketahanan keluarga, pendidikan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan.
Kehadiran unsur pemerintahan yang cukup lengkap, mulai dari Kepala DP3AP2KB, Kepala Disporaparbud, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, hingga camat Seruyan Hilir dan Seruyan — menunjukkan bobot politis dari acara ini. Ini bukan kegiatan kecil tingkat RT, melainkan kekuatan kolaborasi lintas OPD yang sengaja ditampilkan menjelang momentum kemerdekaan.
Namun di balik seremoni yang tertata rapi ini, pertanyaan mendasar tetap mengambang: siapa yang akan memastikan bibit-bibit pohon di Pantai Sungai Bakau tetap hidup enam bulan, satu tahun, bahkan lima tahun ke depan. Tanpa mekanisme pemantauan dan perawatan yang terukur, ajakan Iwan Sumantri berisiko hanya menjadi retorika baik yang menguap seiring berakhirnya liputan media.
Pantai Sungai Bakau sendiri bukan lokasi sembarangan. Kawasan pesisir bermangrove ini memiliki fungsi ekologis vital sebagai penahan abrasi dan habitat biota laut, menjadikan pilihan lokasi penanaman ini secara simbolis maupun ekologis sangat relevan, asalkan komitmen perawatan jangka panjang benar-benar terwujud.
Pada akhirnya, kegiatan gabungan DWP Kabupaten Seruyan ini menawarkan model menarik, memadukan aksi lingkungan, kepedulian ekonomi, dan layanan kesehatan dalam satu momentum kemerdekaan. Tantangan sesungguhnya bukan pada hari pelaksanaan, melainkan pada bulan-bulan sunyi setelahnya, saat sorotan kamera telah pergi dan hanya kesungguhan warga serta pemerintah daerah yang menentukan apakah pohon-pohon itu akan tumbuh menjadi hutan mangrove yang rimbun, atau sekadar menjadi ranting kering yang terlupakan.(*)
Tim Newsline ID









