PALANGKA RAYA, newsline.id – Ruangan itu dipenuhi aroma khas kain benang bintik dan gemerincing ornamen tradisi. Ratusan tokoh adat berkumpul, duduk tegak di jantung Bumi Tambun Bungai. Namun, Jumat itu (22/5), atmosfer di dalam aula tidak terasa seperti seremonial pelantikan yang kaku. Ada ketegangan yang luhur, sebuah getaran yang perlahan berubah menjadi debar komitmen ketika Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, melangkah ke podium.
Di hadapan pengurus Dewan Adat Dayak (DAD), Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (Batamad) kabupaten/kota, serta Lembaga Bantuan Hukum DAD yang baru dikukuhkan, Agustiar tidak memilih kata-kata manis. Ia memilih berbicara dari hati ke hati, melontarkan sebuah maklumat yang humanis sekaligus menggetarkan: DAD harus menjadi pelindung yang peka, yang mampu mendengar bisikan kegelisahan warga di akar rumput sebelum ia menjelma menjadi badai konflik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mendengar Sebelum Suara Menjadi Teriakan
Bagi masyarakat Dayak, merawat kedamaian adalah seni menjalani kehidupan. Agustiar menancapkan tiga ruh pergerakan yang menuntut DAD untuk berjalan lebih dekat dengan denyut nadi masyarakat bawah. Fokus pertama adalah tentang kemanusiaan yang adil: deteksi dini konflik.
Gubernur mengingatkan bahwa lembaga adat tidak boleh menjadi pemadam kebakaran yang baru datang saat api sudah menghanguskan rumah. Mereka harus menjadi sosok orang tua yang jeli—turun ke desa-desa, menyapa peladang, duduk bersama pemuda, dan mendengar perselisihan kecil sebelum ia merembet menjadi sengketa yang merobek tenun kerukunan.
“Dialog dan musyawarah tetap harus dikedepankan,” ucap Agustiar, suaranya melunak namun penuh penekanan.
Itu adalah sebuah prinsip tua yang diwariskan para leluhur lewat petuah lisan. Di zaman modern, ketika jemari begitu mudah menyulut kebencian di media sosial, duduk melingkar dan berbicara tatap muka adalah kemewahan sekaligus obat penawar yang paling mujarab.
Huma Betang: Manifesto Cinta dalam Keberagaman
Fokus kedua menyentuh bagian paling sakral dari identitas Kalimantan Tengah: Falsafah Huma Betang. Agustiar mengajak semua yang hadir untuk merenungkan kembali makna rumah panjang tradisional tersebut.
Huma Betang bukanlah sekadar struktur bangunan kayu belian yang megah. Ia adalah sebuah rahim sosial. Di masa lalu, di dalam satu rumah panjang, puluhan kepala keluarga dengan latar belakang, keyakinan, dan karakter yang berbeda bisa hidup berdampingan, memasak di dapur yang sama, dan berbagi tawa tanpa pernah saling meniadakan.
“Falsafah Huma Betang yang mengandung nilai kebersamaan, toleransi, dan gotong royong harus terus diwujudkan,” kata Agustiar lantang.
Sentuhan humanis yang paling nyata dari komitmen ini adalah penyelamatan bahasa ibu. Gubernur mendorong agar muatan lokal berbahasa Dayak segera diperkuat di sekolah-sekolah. Ada kesadaran emosional yang mendalam di sini: bahasa adalah nyawa peradaban. Ketika anak-anak Dayak kehilangan kata-kata dalam bahasa leluhurnya, mereka sedang kehilangan kompas batin mereka sendiri.
Selain itu, jeritan masyarakat adat yang kerap terhimpit oleh roda investasi juga menjadi perhatian utama. Baginya, pembangunan ekonomi dan investasi yang masuk ke Kalteng sama sekali tidak dilarang, namun tidak boleh dibayar dengan air mata masyarakat lokal atau hilangnya hutan adat. Ini adalah ajakan untuk bernegosiasi secara bermartabat antara modernitas masa depan dan akar sejarah.
Benteng Hukum yang Memiliki Jiwa
Menutup arahannya, pada fokus ketiga, Agustiar memosisikan DAD, Batamad, dan LBH Adat sebagai mitra strategis pemerintah dan aparat keamanan melalui tiga pilar: koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi.
Kalimantan Tengah hari ini adalah magnet ekonomi yang luar biasa dengan segala kompleksitasnya. Jika tidak dijaga dengan hati yang bersih, kilau investasi bisa menjadi bom waktu bagi masyarakat yang telah menghuni tanah ini jauh sebelum peta modern digambar. Di sinilah DAD dituntut tidak hanya tampil gagah dengan pakaian adat saat menyambut tamu, tetapi harus memiliki “gigi” hukum dan kepekaan sosial untuk membela hak-hak kedamaian warga.
Filosofi luhur Huma Betang telah lama mengajarkan kepada kita semua: sebuah rumah menjadi kuat bukan karena dinding kayunya yang tebal atau tiangnya yang kokoh, melainkan karena orang-orang di dalamnya saling menjaga, menghargai, dan mengasihi.
Kini, lewat ketegasan yang humanis, pelajaran dari ukiran dinding adat itu dipaksa turun. Ia harus melangkah keluar dari gedung pertemuan, berjalan menyusuri sungai-sungai Kalteng, dan hidup senyata-nyatanya di dalam jiwa setiap manusia yang bernaung di bawah langit Bumi Tambun Bungai.(*)
Tim Newsline









