SAMPIT, newsline – Berapa banyak lagi nyawa yang harus dikorbankan di atas aspal yang koyak. Pertanyaan retoris nan pedas ini mencuat seiring dengan desakan keras dari Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) terhadap Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalteng. Anggota Komisi IV, Abdul Hafid, secara provokatif mendesak agar perbaikan Jalan HM Arsyad Sampit menuju Pelabuhan Pelindo Bagendang, Kotawaringin Timur, segera dieksekusi tanpa alasan “nanti” atau “tunggu”, mengingat anggaran sudah disahkan dan maut kian rajin mengintai di setiap lubang jalan tersebut.
“Agar keselamatan pengguna jalan terjamin, perbaikan tidak boleh molor lagi! Jalan ini sudah sering memakan korban karena kondisi rusak. Jangan menunggu angka kecelakaan semakin panjang untuk sekadar menggerakkan alat berat ke lapangan,” tegas Abdul Hafid dengan nada bicara yang bergetar penuh penekanan di Sampit (4/5).
Kondisi ruas Jalan HM Arsyad dari Sampit hingga Samuda dan Ujung Pandaran saat ini bukan sekadar jalan rusak biasa, ia telah bermutasi menjadi titik rawan kecelakaan yang mengerikan. Kerusakan permukaan jalan yang masif menciptakan jebakan mematikan, terutama bagi pengendara sepeda motor. Di malam hari, minimnya penerangan membuat lubang-lubang tersebut menjadi “invisible trap”. Saat hujan turun, air yang menggenang menyamarkan kedalaman lubang, mengubah jalan raya menjadi ladang ranjau bagi siapa saja yang melintas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kekhawatiran Hafid bukan tanpa alasan yang kuat. Tragedi terbaru pecah pada awal tahun lalu. Di KM 16, Desa Bapeang, sebuah kecelakaan ganda yang melibatkan lebih dari satu kendaraan kembali merenggut nyawa. Satu orang dilaporkan tewas di tempat dengan luka yang memilukan. Insiden ini menambah daftar panjang “catatan hitam” di ruas yang sama, setelah sebelumnya akhir tahun 2025 lalu, sebuah truk sawit hilang kendali di KM 8 Desa Eka Bahurui hingga menghantam warung warga dan menumbangkan pohon.
Publik perlu tahu bahwa kendala dana bukanlah alasan. Politisi dari Fraksi PAN ini membeberkan fakta bahwa alokasi dana untuk peningkatan Jalan HM Arsyad telah resmi disahkan. Proyek ini bahkan telah ditetapkan sebagai prioritas utama untuk direalisasikan pada triwulan pertama tahun 2026. Artinya, secara legalitas dan finansial, lampu hijau sudah menyala terang.
“Alokasi dana sudah disahkan, tinggal bagaimana percepatan realisasinya agar tidak menunggu korban bertambah,” ujar mantan Ketua Karang Taruna Kalteng tersebut. Pesan ini merupakan kritik tajam sekaligus motivasi bagi birokrasi di Dinas PUPR agar tidak terjebak dalam pusaran administrasi yang lamban sementara nyawa warga dipertaruhkan setiap detik di jalanan.
Jalur Urat Nadi yang Terabaikan
Jalan HM Arsyad bukan sekadar jalan kampung. Ini adalah jalur strategis antar kabupaten dan akses utama menuju pelabuhan ekonomi penting di Bagendang serta penghubung ke Kabupaten Seruyan. Mobilitas truk logistik bermuatan besar, seperti kelapa sawit dan kebutuhan pokok, berkelindan dengan aktivitas masyarakat lokal. Ketimpangan antara beban kendaraan dan kualitas aspal yang kian menurun menciptakan risiko sistemik yang harus segera diputus rantainya.
Masyarakat kini menagih janji. Kesaksian warga seperti Linda, yang menyaksikan truk sawit terguling dan menghancurkan warung di penghujung 2025 lalu, menjadi potret kecil dari ketakutan massal yang dirasakan pengguna jalan. Transformasi infrastruktur bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bentuk perlindungan hak asasi manusia untuk mendapatkan rasa aman saat bermobilisasi.
Abdul Hafid mendesak Dinas PUPR segera melakukan eksekusi lapangan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Harapannya jelas, jalan kembali mulus, keamanan terjamin, dan ekonomi bergerak tanpa dihantui berita duka. Ini adalah ujian integritas bagi pemerintah daerah; apakah mereka mampu bergerak lebih cepat dari datangnya maut, atau kembali terjebak dalam rutinitas “perbaikan setelah viral”.
Ruas jalan Sampit-Samuda hingga Ujung Pandaran secara historis memang kerap mengalami kerusakan akibat beban kendaraan berat (over dimension over load) dan kondisi tanah rawa yang labil di beberapa titik. Sejarah mencatat bahwa tanpa perawatan berkala yang inovatif dan perkerasan yang mumpuni, jalan ini akan terus menjadi “langganan” kerusakan yang menguras APBD dan nyawa rakyat setiap tahunnya. Kini, bola panas ada di tangan eksekutif untuk membuktikan bahwa anggaran yang disahkan benar-benar dikonversi menjadi aspal yang kokoh, bukan sekadar angka di atas kertas.(*)
Tim Newsline









