KUALA PEMBUANG, newsline.id – Tabir “diam itu emas” bagi perempuan di Kabupaten Seruyan resmi diruntuhkan. Rabu, 29 April 2026, Lapangan Tenis Indoor Kuala Pembuang menjadi saksi bisu saat Bupati Seruyan, Ahmad Selanorwanda, secara provokatif memicu semangat ratusan anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP) untuk berhenti menjadi penonton di balik layar dan mulai berani “mengguncang” panggung publik melalui kemahiran berbicara.
Momentum peringatan Hari Kartini ke-147 tahun 2026 di Kabupaten Seruyan tidak lagi sekadar seremoni kebaya. Melalui Seminar Public Speaking With Confidence: Berani Berbicara, Menginspirasi, Bupati Ahmad Selanorwanda menegaskan bahwa penguasaan komunikasi adalah senjata utama perempuan masa kini. Di hadapan unsur Forkopimda dan organisasi wanita, orang nomor satu di Bumi Gawi Hatantiring ini mendorong transformasi peran perempuan dari sekadar pendamping menjadi mitra strategis yang vokal dalam pembangunan daerah.

“Keberhasilan suami sangat tergantung pada ketenangan dan dukungan yang ibu-ibu berikan, tapi itu saja tidak cukup di era digital ini,” ujar Selanorwanda dengan nada persuasif. Ia menekankan bahwa literasi berbicara bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendasar. Seminar ini dihadirkan bukan tanpa alasan; banyak potensi perempuan di daerah yang terpendam hanya karena tembok bernama “rasa tidak percaya diri” saat berdiri di depan banyak orang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bupati secara kritis menyoroti bahwa perempuan DWP adalah wajah dari abdi negara. Bagaimana mungkin sebuah daerah maju jika para pendamping kebijakan publiknya masih ragu untuk menyuarakan inovasi. Ia menantang para peserta untuk memanfaatkan teknologi dan ekonomi kreatif sebagai panggung baru. Baginya, Kartini modern adalah mereka yang mampu mengolaborasi kecerdasan emosional dengan ketangkasan berargumen untuk kemajuan keluarga dan masyarakat.
Suasana seminar yang dihadiri praktisi komunikasi ini menjadi sangat dinamis ketika Bupati meminta DWP menjadi wadah pembinaan keluarga yang tidak hanya harmonis secara tradisional, tetapi juga berkualitas secara intelektual. “Jangan takut salah. Menjadi Kartini masa kini adalah tentang menjaga diri, berani tampil, namun tetap rendah hati. Teruslah melangkah dan menginspirasi,” tegasnya, memotivasi peserta yang tampak antusias mengikuti setiap sesi teknis berbicara efektif.
Langkah ini dianggap sebagai inovasi edukatif bagi birokrasi di Seruyan. Selama ini, peran organisasi perempuan sering dianggap hanya sebagai pelengkap acara seremonial. Namun, melalui instruksi langsung Bupati untuk meningkatkan penguasaan teknologi dan kemampuan bicara, ada pergeseran paradigma, perempuan Seruyan sedang dipersiapkan menjadi komunikator ulung yang mampu mempromosikan potensi daerah ke tingkat nasional maupun internasional.
Keterlibatan aktif perempuan di berbagai sektor di Seruyan juga mendapat apresiasi tinggi. Namun, apresiasi tersebut dibarengi dengan “cambukan” semangat agar mereka tidak cepat puas. Ahmad Selanorwanda mengingatkan bahwa tantangan masa depan menuntut perempuan yang cerdas membaca peluang. Kemampuan public speaking dianggap sebagai kunci pembuka pintu-pintu kesempatan di sektor ekonomi kreatif yang sedang digalakkan pemerintah daerah.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang peringatan Hari Kartini di Kabupaten Seruyan yang fokus pada pemberdayaan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Sebelumnya, berbagai kegiatan bertema serupa juga digelar untuk memastikan bahwa semangat emansipasi tidak berhenti pada peringatan tanggal 21 April saja, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan.
Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Seruyan sendiri terus berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah. Dengan anggota yang tersebar di berbagai unit perangkat daerah, penguatan kompetensi komunikasi ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang lebih kuat dalam mendukung visi pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Seruyan.
Hingga kini, semangat seminar masih terasa di kalangan peserta. Banyak dari mereka mulai menyadari bahwa suara mereka memiliki kekuatan untuk mengubah kebijakan, minimal dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga dan organisasi. Kini, bola panas perubahan ada di tangan para perempuan Seruyan: tetap diam di zona nyaman atau berani tampil menginspirasi dunia.(*)
Tim Newsline









