PALANGKA RAYA, newsline.id – Di tepi lahan gambut Kereng Bangkirai, Sebangau, ratusan kader PDI Perjuangan Kota Palangka Raya menancapkan bibit pohon ke dalam tanah, bukan sekadar ritual seremonial, melainkan pernyataan politik yang paling jujur, bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ideologi itu sendiri.
Senin, 15 Juni 2026, bertepatan dengan peringatan Bulan Bung Karno, DPC PDI Perjuangan Kota Palangka Raya menggelar aksi penanaman pohon massal di kawasan Sebangau, Kereng Bangkirai. Sebanyak 1.000 bibit pohon terdiri dari pinus, durian, dan sukun, ditanam secara simbolis, diawali oleh Ketua DPC PDIP Palangka Raya, Nenei Adriati Lambung, di hadapan seluruh jajaran pengurus, kader, hingga anak-anak muda dari generasi Z yang turut dilibatkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan Sekadar Tanam Pohon
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Palangka Raya, Nenie Adriati Lambung, menegaskan bahwa kegiatan ini jauh lebih besar dari sekadar aksi penghijauan. Ini adalah pendidikan. Pendidikan mencintai tanah air yang dimulai dari akar, secara harfiah.

“Ini juga untuk menjaga mata air dan sebagai bentuk antisipasi terjadinya bencana alam. Sangat cocok lokasi ini mengingat tempat ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai area hijau dalam mendukung keseimbangan ekosistem,” ujar Nenie yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Palangka Raya.
Kawasan Sebangau bukan lokasi sembarangan. Terletak di koridor ekosistem gambut yang selama ini rentan kebakaran, pemilihan lokasi ini menyiratkan kesadaran ekologis yang serius. Pinus untuk penopang tanah, durian dan sukun untuk ketahanan pangan lokal kombinasi yang mencerminkan visi jangka panjang, bukan kepentingan musiman.
Instruksi dari Atas: Megawati dan Denyut Rakyat
Aksi ini tidak lahir dari inisiatif lokal semata. Nenie Lambung secara eksplisit mengaitkannya dengan instruksi Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang belakangan semakin keras menekankan agar kader turun ke rakyat, merasakan langsung denyut kehidupan mereka.
Megawati menginginkan kader yang berpikir kritis-dialektis, dalam tradisi pemikiran Bung Karno: tidak berdiri di menara gading kebijakan, tetapi berkeringat bersama rakyat di lapangan. Peringatan tegas disampaikan kepada kader yang enggan bekerja maksimal dan larangan korupsi ditegaskan ulang tanpa kompromi.
Di Palangka Raya, instruksi itu tampak diwujudkan secara konkret. Kegiatan penanaman pohon bukan berdiri sendiri. Ia hadir dalam satu rangkaian bersama pembagian sembako gratis, lomba masak, dan turnamen olahraga. Kehadiran generasi Z dalam kegiatan ini juga bukan aksesori. Ini adalah strategi regenerasi, menanamkan nilai sebelum menanamkan loyalitas.
Momentum Bung Karno: Warisan yang Tak Boleh Kering
Bulan Juni selalu menjadi bulan istimewa bagi PDIP. Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901, dan wafat pada 21 Juni 1970. Menjadikan Juni sebagai “Bulan Bung Karno” adalah upaya partai untuk terus menghidupkan narasi ideologis yang menjadi fondasinya.
Namun peringatan yang bermakna bukan yang hanya menghadirkan foto dan pidato. Yang bermakna adalah yang meninggalkan bekas nyata bagi masyarakat.
“Kami ingin kegiatan Bulan Bung Karno ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Karena itu, kami menekankan kegiatan yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan warga, seperti gotong royong, kerja bakti, dan bakti sosial,” tegas Nenie.
Gotong royong, nilai yang disebut Bung Karno sebagai Weltanschauung, pandangan dunia orang Indonesia, kembali dicoba dihidupkan, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai praktik.
Dari Sebangau, Pesan untuk Semua
Satu ribu pohon yang tertancap di tanah gambut Sebangau hari ini adalah taruhan jangka panjang. Pohon pinus membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh sempurna. Durian baru berbuah setelah bertahun-tahun. Sukun bisa menjadi sumber pangan generasi yang belum lahir.

Itulah justru inti pesannya, politik yang sesungguhnya tidak mengejar hasil instan. Politik yang diwariskan Bung Karno adalah politik yang berpikir untuk anak cucu.
Nenie Lambung menutup pesannya dengan seruan terbuka kepada seluruh warga Kota Palangka Raya, lintas partai, lintas generasi untuk bergerak bersama menjaga lingkungan di daerah masing-masing. Bukan karena instruksi partai, tetapi karena bumi ini milik semua.
Melalui peringatan Bulan Bung Karno, PDI Perjuangan Palangka Raya mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan, memperkuat semangat kebangsaan, serta melanjutkan perjuangan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Di Kereng Bangkirai, satu bibit kecil telah ditancapkan. Kini pertanyaannya tinggal satu: siapa yang akan merawatnya(*)
Tim Newsline: Syamsudin Dinata









