KUALA PEMBUANG, newsline.id – Di ujung jalan yang selama bertahun-tahun hanya bisa dilalui saat musim kemarau, sebuah ekskavator akhirnya bergerak. Bukan sekadar mesin, Ini adalah sinyal bahwa pemerintah Kabupaten Seruyan tidak lagi sekadar berjanji.
Senin, 8 Juni kamaren, Bupati Seruyan Ahmad Selanorwanda, S.E., M.Si. secara resmi meluncurkan operasional armada alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Seruyan di Workshop UPTD Alat Berat DPUPR Kecamatan Seruyan Hulu. Bukan seremoni biasa, ini adalah deklarasi perang terhadap keterisolasian wilayah pedalaman yang sudah terlalu lama dibiarkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mesin yang Berbicara Lebih Keras dari Pidato-pidato
Deretan kendaraan operasional diserahkan langsung kepada UPTD, Hilux, dump truck, tronton, motor grader, ekskavator, hingga stum. Seluruhnya ditempatkan di Seruyan Hulu sebagai basis operasional permanen. Bukan dipinjam, bukan dikontrak sewaktu-waktu. Pemerintah daerah kini punya armadanya sendiri.
Dan bukti pertamanya sudah ada. Perbaikan jalan longsor di Desa Manjul, Bukit Lipis, telah selesai dikerjakan. Di Desa Mojang Baru, penimbunan darurat ruas jalan yang tergenang banjir sudah berjalan. Alat berat bukan lagi wacana, ia sudah eksen di lapangan.
Mengapa Ini Penting, Ketika Jalan Adalah Segalanya
Wilayah hulu Sungai Seruyan bukan sekadar titik di peta. Di sanalah ribuan warga bergantung pada jalan tanah yang berubah menjadi lumpur saat hujan, dan mengeras menjadi debu saat kemarau. Akses ke layanan kesehatan, sekolah, hingga pasar hasil bumi—semuanya bertumpu pada infrastruktur yang selama ini jauh dari layak.
Sebagian besar ruas jalan penghubung antardesa di kawasan ini mengalami kerusakan parah, khususnya di area pinggiran sungai yang kerap terdampak banjir musiman. Tanpa jalan yang bisa diandalkan, hasil kebun warga membusuk sebelum sampai ke kota. Anak-anak terlambat ke sekolah, atau tidak pergi sama sekali.
Bupati Ahmad Selanorwanda memahami ini bukan sebatas data statistik. “Pembangunan jalan bukan hanya soal membuka akses transportasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ketika konektivitas terbangun dengan baik, maka aktivitas masyarakat akan semakin lancar dan pertumbuhan daerah dapat berjalan lebih cepat,” tegasnya dalam peluncuran tersebut.
Ruas Prioritas, Dari Rantau Pulut Hingga Ujung Pedalaman
Pemerintah Kabupaten Seruyan telah memetakan ruas-ruas jalan yang menjadi prioritas penanganan. Jalur Rantau Pulut–Tumbang Manjul menjadi koridor utama, dilanjutkan ke Tumbang Langkai, Tumbang Magin, Tumbang Darap, dan Tanjung Paku. Nama-nama desa yang selama ini nyaris tak terdengar di telinga publik namun di situlah kehidupan nyata berlangsung, dan di situlah alat berat ini akan bekerja.
Jembatan Manjul sepanjang 80 meter di Desa Tumbang Manjul, ibu kota Kecamatan Seruyan Hulu,, bahkan sudah diresmikan lebih dulu, memperlancar akses lintas batas ke wilayah Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Seruyan Hulu bukan lagi kantong terisolasi; ia sedang membangun koneksinya ke dunia luar.

Investasi, Bukan Pengeluaran
Ahmad Selanorwanda membingkai pengadaan armada ini bukan sebagai beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang. “Pengadaan alat berat ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur. Dengan dukungan peralatan yang memadai, pekerjaan pemeliharaan maupun peningkatan jalan dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan efisien,” ujarnya.
Logikanya sederhana dan tak terbantahkan, memiliki alat berat sendiri berarti respons darurat bisa dilakukan tanpa menunggu proses lelang penyewaan. Ketika jalan longsor atau banjir mengepung desa, hitungan hari bisa menjadi penentu antara akses dan isolasi.
Bupati juga mengonfirmasi bahwa sebagian unit telah langsung beroperasi, sementara sisanya masih melewati pemeriksaan kualitas ketat. “Kami ingin memastikan bahwa seluruh alat yang diterima benar-benar dalam kondisi baik dan sesuai spesifikasi,” katanya—sebuah pernyataan yang menunjukkan kehati-hatian teknis, bukan sekadar euforia seremonial.
Kolaborasi sebagai Syarat, Bukan Pelengkap
Yang menarik dari pernyataan Bupati adalah kesadaran bahwa infrastruktur tidak bisa dibangun oleh satu tangan. Peluncuran ini dihadiri Wakil Bupati H. Supian, S.Ag., Wakil Ketua I DPRD Harsandi, S.T., M.M., unsur Forkopimda, para camat, kepala perangkat daerah, hingga perwakilan perusahaan besar swasta (PBS) yang beroperasi di Seruyan.
Keterlibatan PBS bukan sekadar formalitas undangan. Di wilayah dengan konsesi perkebunan dan pertambangan yang menggunakan jalan publik secara masif, ada tanggung jawab bersama yang seharusnya tidak bisa dihindari.
“Pembangunan infrastruktur bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dibutuhkan dukungan dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat, termasuk Damang, Mantir, tokoh adat, dan para pemangku kepentingan lainnya,” pungkas Bupati—menutup sambutan dengan nada yang lebih merupakan tantangan daripada basa-basi.
Tolok Ukur Sesungguhnya, Waktu dan Konsistensi
Alat berat sudah ada. Jalan Manjul sudah selesai diperbaiki. Titik awal ini menjanjikantapi sejarah pembangunan infrastruktur Indonesia penuh dengan inisiatif yang layu di tengah jalan karena keterbatasan anggaran pemeliharaan, rotasi pejabat, atau tekanan politik jangka pendek.
Seruyan Hulu butuh bukan hanya mesin yang bergerak hari ini, tetapi sistem yang memastikan mesin itu tetap bergerak tahun depan dan lusa. Investasi pada armada adalah langkah pertama yang benar. Langkah berikutnya—penganggaran rutin, kapasitas operator terlatih, dan transparansi kinerja—itulah yang akan menentukan apakah ini babak baru atau sekadar momentum sesaat. Untuk saat ini, suara ekskavator di Manjul adalah jawabannya. Dan itu sudah cukup untuk memulai.(*)
Tim Newsline









