PALANGKA RAYA, newsline.id – Suasana pagi yang seharusnya tenang di Jalan Mahir Mahar, Kota Palangka Raya, mendadak pecah oleh teriakan histeris warga pada Kamis (14/5/2026). Seorang wanita yang diduga bekerja sebagai penyedia jasa pijat “plus-plus” ditemukan tergeletak tak berdaya dalam kondisi bersimbah darah di sebuah warung kayu remang-remang dekat simpang tiga Jalan G. Obos. Tubuhnya dipenuhi luka bacok yang menganga, menjadi potret kelam kekerasan yang menghantui jalur prostitusi terselubung di Kota Cantik.
Luka-luka di sekujur tubuh korban menceritakan betapa brutalnya serangan yang ia terima. Dari pantauan di lapangan, kedua tangan wanita malang tersebut mengalami cedera parah, nyaris hancur akibat menahan sabetan senjata tajam. Tak hanya itu, luka sayatan yang dalam juga ditemukan di bagian kaki, membuatnya tak mampu lagi melarikan diri dari maut yang hampir menjemput.
Aparat kepolisian dari Polsek Pahandut bergerak cepat setelah menerima laporan warga. Garis polisi kuning kini melintang, memisahkan hiruk-pikuk jalan raya dengan kengerian di dalam warung kayu tersebut. Tim Inafis melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dengan teliti, mengumpulkan sisa-sisa jejak yang ditinggalkan pelaku di antara genangan darah yang mulai mengering di atas kursi kayu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kapolsek Pahandut, Iyudi Hertanto, mengonfirmasi peristiwa berdarah ini. “Kami sedang melakukan pemeriksaan intensif. Personel di lapangan terus melakukan interogasi untuk mengungkap motif sebenarnya di balik penganiayaan berat ini,” tegasnya singkat. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa negara hadir di tengah kegelapan kriminalitas yang kerap menyelimuti kawasan lingkar luar.
Hanya berselang beberapa jam setelah penemuan korban, korps berbaju cokelat berhasil meringkus terduga pelaku tidak jauh dari lokasi kejadian. Sebilah senjata tajam yang masih menyisakan sisa-sisa amarah pelaku turut diamankan. Keberhasilan ini adalah langkah awal untuk memberikan keadilan bagi korban yang kini tengah berjuang antara hidup dan mati di ruang IGD rumah sakit terdekat.
Tragedi ini bukan sekadar kriminalitas biasa, ini adalah alarm keras bagi kita semua. Jalan Mahir Mahar sudah lama dikenal sebagai “jalur abu-abu” di Palangka Raya. Di balik dinding-dinding papan warung yang minim penerangan, praktik prostitusi terselubung tumbuh subur. Para wanita yang mengadu nasib di sana seringkali terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan dan kerentanan keamanan yang tinggi.
Kawasan ini menjadi bukti nyata bagaimana sudut kota yang terabaikan bisa berubah menjadi zona merah yang mematikan. Jauh dari pemukiman padat dan minimnya pengawasan membuat nyawa manusia seolah menjadi sangat murah di sini. Kekerasan terhadap perempuan di sektor informal seperti ini seringkali luput dari perhatian publik hingga darah benar-benar tumpah ke lantai.
Peristiwa ini menuntut adanya keberanian dari Pemerintah Kota dan aparat terkait untuk melakukan penataan total terhadap kawasan lingkar luar. Kita tidak bisa lagi menutup mata atas nama “mencari sesuap nasi” jika nyawa taruhannya. Edukasi mengenai keamanan diri dan perlindungan hukum bagi pekerja rentan harus menjadi prioritas, agar tidak ada lagi “korban-korban sunyi” berikutnya.
Inovasi dalam pengamanan wilayah, seperti pemasangan CCTV di titik-titik rawan atau peningkatan patroli malam, bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Masyarakat juga diajak untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Sikap apatis hanya akan memberi ruang bagi pelaku kejahatan untuk terus beraksi di bawah bayang-bayang kegelapan warung remang-remang.
Kita semua berhutang rasa aman kepada setiap warga negara, tanpa memandang apa profesi mereka. Tragedi ini harus menjadi titik balik bagi Palangka Raya untuk membersihkan diri dari praktik-praktik yang merendahkan martabat manusia dan membahayakan nyawa. Mari jadikan momentum ini untuk mendesak kebijakan yang lebih manusiawi namun tegas terhadap penyakit masyarakat.
Peristiwa ini adalah harapan akan keadilan. Bahwa seberapa pun kelamnya masa lalu atau lingkungan seseorang, ia tetap berhak atas perlindungan hukum yang sama. Pelaku harus dijatuhi hukuman maksimal agar memberikan efek jera dan membuktikan bahwa hukum tidak pernah tidur, bahkan di lorong-lorong gelap Mahir Mahar sekalipun.
Hingga saat ini, polisi masih mendata identitas lengkap korban dan pelaku. Namun, satu hal yang pasti: luka yang tertoreh di tubuh wanita itu adalah luka bagi kemanusiaan kita semua. Kita menunggu langkah nyata dari pihak berwenang agar kejadian serupa tidak lagi menjadi tajuk utama berita di masa depan.
Kawasan Mahir Mahar memang memiliki catatan panjang terkait gesekan sosial dan kriminalitas. Namun, membiarkannya terus menjadi jalur “hitam” hanya akan menambah deretan daftar panjang korban. Diperlukan sinergi antara tokoh masyarakat, aparat, dan pemerintah untuk mengubah wajah kawasan ini menjadi lebih produktif dan aman bagi semua orang.
Tragedi mengingatkan kita bahwa keselamatan adalah hak dasar yang paling fundamental. Saat berita ini diturunkan, warga masih berkumpul di sekitar TKP, membicarakan kengerian yang baru saja terjadi. Semoga darah yang tumpah hari ini menjadi tetesan terakhir yang mengakhiri potret kelam prostitusi terselubung di jantung Kalimantan Tengah.(*)
Tim Newsline









