KUALA PEMBUANG, newsline.id – Di tengah riuhnya digitalisasi, jeritan senyap dari pelosok Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, memanggil perhatian kita semua. Sebuah realita pahit terungkap, sembilan desa di Bumi Gawi Hatantiring hingga kini masih belum memiliki Tenaga Kesehatan (Nakes). Fakta ini menjadi alarm keras bagi pemenuhan hak dasar kesehatan warga di daerah terpencil.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Seruyan, Ruspandian Noor, mengkonfirmasi kondisi ini berdasarkan data terbaru Sistem Informasi SDM Kesehatan (Sisdmk). Kesembilan desa yang tengah “merindu” kehadiran nakes tersebut adalah Desa Pangke, Sapundu Hantu, Mungoh Juoi, Tumbang Kalam, Tumbang Kasai, Tumbang Sepan, Tumbang Suei, Marandang, dan Tumbang Sitoli.

“Kami sadar sepenuhnya betapa krusial keberadaan nakes bagi masyarakat. Saat ini, melalui data Sisdmk, tercatat sembilan desa yang memang masih kosong. Ini adalah prioritas yang harus segera kami selesaikan,” ujar Ruspandian Noor dengan nada penuh komitmen kepada Tim Newsline di Kuala Pembuang, Sabtu, (2/5).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah Nyata, Menjemput Bola dengan Pusling dan PKB
Dinas Kesehatan Seruyan tidak tinggal diam menunggu keajaiban. Mengingat jarak tempuh dan geografis yang menantang, strategi “jemput bola” menjadi napas utama pelayanan saat ini. Ruspandian menjelaskan bahwa pemerintah telah mengaktifkan Puskesmas Keliling (Pusling) secara intensif untuk menjangkau titik-titik buta pelayanan tersebut.
Tak hanya itu, program Pelayanan Kesehatan Bergerak (PKB) juga diterjunkan secara berkala. Tim medis dikerahkan masuk ke desa-desa tanpa nakes tersebut untuk memberikan pemeriksaan, pengobatan, hingga edukasi pola hidup sehat. Ini adalah upaya darurat agar masyarakat tetap mendapatkan hak medisnya meski secara periodik.
Inovasi humanis lainnya yang menjadi sorotan adalah keberadaan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) di Puskesmas Tumbang Manjul. Fasilitas ini dirancang khusus untuk memfasilitasi ibu hamil dari desa-desa terpencil agar bisa tinggal sementara menjelang persalinan. Langkah ini bertujuan mendekatkan akses ke tenaga medis profesional guna menekan angka kematian ibu dan bayi.
Masa Depan, Formasi CPNS dan Regulasi Tugsus Daerah
Menatap solusi jangka panjang, Dinas Kesehatan Seruyan telah resmi mengajukan kekosongan posisi ini melalui Usulan Formasi CPNS. Harapannya, generasi muda tenaga medis yang memiliki jiwa pengabdian tinggi dapat mengisi pos-pos di desa tersebut dalam waktu dekat.
Selain jalur birokrasi pusat, Pemkab Seruyan tengah menggodok regulasi lokal yang inovatif, yakni Tugas Khusus (Tugsus) Daerah. Kebijakan ini diharapkan menjadi “karpet merah” bagi para nakes lokal atau putra daerah untuk mengabdi di tanah kelahirannya dengan skema insentif dan perlindungan yang lebih tertata.
“Regulasinya masih kami persiapkan dengan matang agar berkelanjutan. Kami ingin nakes yang nantinya bertugas di sana merasa nyaman dan dihargai pengabdiannya, sehingga mereka betah menetap dan melayani warga dengan hati,” tambah Ruspandian.
Menggugah Empati, Menumbuhkan Harapan
Situasi di sembilan desa ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan cerita tentang nyawa dan kualitas hidup manusia. Ketidakhadiran nakes adalah tantangan besar bagi visi pemerataan kesejahteraan di Seruyan. Namun, langkah-langkah strategis yang diambil Pemkab Seruyan memberikan secercah cahaya di ujung terowongan.
Dukungan masyarakat dan pengawasan publik sangat diperlukan agar janji pengisian nakes ini bukan sekadar wacana. Publik berharap, melalui jalur CPNS maupun Tugsus Daerah, desa-desa seperti Tumbang Sepan hingga Tumbang Sitoli segera memiliki pahlawan berbaju putih yang siap siaga 24 jam.
Kesehatan adalah fondasi utama pembangunan. Dengan kolaborasi antara pemerintah yang proaktif dan masyarakat yang kritis namun mendukung, mimpi melihat setiap desa di Seruyan memiliki layanan kesehatan yang layak bukanlah hal mustahil. Mari kita kawal bersama hingga “sembilan desa” tersebut tak lagi berada dalam daftar kekosongan.
Kabupaten Seruyan memiliki luas wilayah yang didominasi hutan dan aliran sungai, menjadikannya salah satu daerah dengan tantangan distribusi logistik dan SDM tersulit di Kalimantan Tengah. Sejak pemekarannya, masalah kekurangan nakes memang menjadi isu klasik di wilayah pelosok yang kini tengah diupayakan tuntas oleh kepemimpinan saat ini melalui digitalisasi data Sisdmk dan skema Tugsus.(*)
Tim Newsline









