KUALA PEMBUANG, newsline.id – Ada yang berbeda di Aula Dinas Perikanan Kabupaten Seruyan pada Selasa pagi, 28 April 2026. Bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, Pelaksana Harian (Plh.) Sekretaris Daerah Kabupaten Seruyan, dr. Bahrun Abbas, M.P.H., secara resmi menabuh genderang perang terhadap ketertinggalan ekonomi sektor perikanan. Lewat pembukaan Sosialisasi Pembinaan Sertifikasi Kelayakan Pengolahan (SKP), Pemerintah Kabupaten Seruyan mengirim pesan provokatif bagi para pelaku usaha: “Berhenti menjual barang mentah, saatnya kuasai pasar dengan produk bernilai tinggi.
Langkah ini bukan sekadar urusan administratif di atas kertas. Di hadapan puluhan nelayan dan pengolah hasil laut yang hadir, dr. Bahrun Abbas menegaskan bahwa potensi perikanan Seruyan yang melimpah—dari laut hingga sungai—adalah raksasa tidur yang harus segera dibangunkan. Selama ini, kekayaan alam kita hanya lewat begitu saja tanpa memberikan nilai tambah yang signifikan bagi kantong masyarakat. Sertifikasi SKP hadir sebagai “paspor” bagi produk lokal untuk menembus etalase supermarket hingga pasar ekspor.

“Kita punya laut yang luas, sungai yang kaya, tapi mengapa kesejahteraan masih begini-begini saja. Jawabannya ada pada kualitas dan keamanan pangan,” tegas dr. Bahrun Abbas dalam pidatonya yang menghentak. Ia menekankan bahwa di era modern, konsumen tidak lagi hanya mencari rasa, melainkan kepastian higienis dan sanitasi. Tanpa SKP, sehebat apa pun produk olahan Seruyan, ia akan tetap terkurung di pasar tradisional dan sulit bersaing dengan produk luar yang sudah bersertifikat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Inovasi yang diusung dalam sosialisasi ini bersifat edukatif dan sangat krusial bagi kelangsungan usaha kecil. Sertifikasi SKP bukan sekadar beban biaya, melainkan investasi. Dengan memegang sertifikat ini, pelaku usaha dipaksa untuk naik kelas, menerapkan standar produksi yang bersih, dan menjamin bahwa ikan yang sampai ke meja makan konsumen adalah produk yang aman dikonsumsi. Ini adalah transformasi mentalitas: dari sekadar “pencari ikan” menjadi “pengusaha pangan.”
Kegiatan ini merupakan manifestasi nyata dari strategi pengentasan kemiskinan yang cerdas. Pemerintah Daerah tidak lagi memberikan bantuan yang habis pakai, melainkan memberikan “pancing” berupa pengetahuan dan legalitas. Dengan SKP, produk olahan seperti kerupuk ikan, ikan asin, hingga abon ikan dari Seruyan memiliki standar yang diakui secara nasional. Hal ini secara otomatis akan mendongkrak harga jual dan memperluas jangkauan distribusi, yang berujung pada peningkatan pendapatan rumah tangga nelayan.
Sinergi lintas sektor juga menjadi poin krusial yang dibahas. dr. Bahrun Abbas mengingatkan bahwa SKP adalah gerbang awal yang harus dikolaborasikan dengan sertifikasi lain seperti PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dan Sertifikasi Halal. Integrasi berbagai legalitas ini akan menciptakan ekosistem usaha yang tangguh dan kredibel. Pelaku usaha di Seruyan harus sadar bahwa di dunia bisnis yang kompetitif, kepercayaan konsumen adalah mata uang yang paling berharga.
Gaya bahasa pembinaan ini sangat persuasif, mengajak peserta untuk tidak takut dengan perubahan. Edukasi mengenai cara pengolahan yang benar diharapkan mampu memutus rantai kerugian akibat rusaknya hasil tangkapan yang tidak terolah. Motivasi yang diberikan sangat jelas: jadilah tuan rumah di negeri sendiri. Jangan biarkan ikan dari perairan Seruyan dibawa keluar dalam kondisi mentah, diolah di daerah lain, lalu kita membelinya kembali dengan harga mahal dalam kemasan yang cantik.

Kritik tajam terhadap pemanfaatan potensi yang belum maksimal menjadi bumbu penyemangat dalam acara tersebut. Pemerintah Kabupaten Seruyan ingin menunjukkan bahwa mereka hadir bukan hanya sebagai pengawas, melainkan sebagai fasilitator yang menyediakan “karpet merah” bagi kemajuan UMKM perikanan. Fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat untuk mengubah nasib ekonomi daerah.
Dinas Perikanan Kabupaten Seruyan berkomitmen untuk terus mendampingi para pelaku usaha hingga sertifikasi ini benar-benar terwujud. Hal ini bukan sekadar janji manis, melainkan program prioritas pembangunan daerah yang terukur. Publik harus melihat bahwa ada upaya serius untuk menjadikan sektor perikanan sebagai tulang punggung ekonomi selain sektor perkebunan dan pertambangan yang selama ini mendominasi.
Kabupaten Seruyan memang dikenal sebagai wilayah pesisir dengan ketergantungan tinggi pada sektor perikanan. Namun, catatan sejarah juga menunjukkan fluktuasi ekonomi nelayan yang sering kali terjepit oleh tengkulak. Dengan adanya standarisasi produk melalui SKP, posisi tawar nelayan dan pengolah ikan akan meningkat pesat, memberikan perlindungan ekonomi yang lebih stabil bagi mereka.
SKP merupakan prasyarat teknis yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bagi setiap unit pengolahan ikan. Tanpa ini, impian untuk menjadikan Seruyan sebagai sentra pengolahan ikan unggulan akan sulit terwujud. Sosialisasi ini adalah langkah kecil yang menentukan lompatan besar bagi masa depan ekonomi Bumi Gawi Hatantiring.
Kini, bola panas ada di tangan para pelaku usaha. Pemerintah telah membuka jalan, memberikan edukasi, dan memfasilitasi legalitas. Akankah nelayan Seruyan berani mengambil tantangan ini dan bertransformasi menjadi eksportir andal? Atau tetap nyaman di zona lama yang penuh ketidakpastian? Satu yang pasti, semangat dr. Bahrun Abbas pagi tadi telah menyalakan api optimisme di hati para pejuang ekonomi pesisir.
Mari kita dukung produk lokal Seruyan yang bersertifikat SKP. Ini bukan hanya tentang ikan, ini tentang harga diri dan kemandirian ekonomi bangsa yang dimulai dari piring makan kita sendiri. Ayo, Seruyan, saatnya produk kita mengguncang dunia.(*)
Tim Newsline









