RANTAU PULUT, newsline.id – Tragedi berdarah kembali pecah di jalur tengkorak kawasan Bukit Akap/Badung, Desa Gantung Pengayuh kecamatan Seruyan Tengah. Sebuah mobil yang mengangkut satu keluarga asal Desa Derawa terjungkal saat tak kuasa menaklukkan tanjakan curam yang kondisinya hancur lebam, Minggu (12/4/2026) sore. Kecelakaan mematikan ini seolah menjadi tamparan keras bagi otoritas terkait yang selama ini dituding abai terhadap kelayakan infrastruktur di pelosok Seruyan.
Informasi dilapangan, menyebutkan insiden yang terjadi sekitar pukul 16.30 WIB ini menyisakan duka mendalam. Dari lima orang penumpang di dalam mobil, tiga nyawa melayang seketika di lokasi kejadian, sementara dua lainnya kini dalam kondisi kritis bertarung nyawa di fasilitas medis. Kabar yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa di antara korban tewas terdapat pasangan suami istri yang harus meregang nyawa di jalanan yang lebih mirip lintasan uji nyali daripada akses publik.
Penyebabnya klasik namun fatal, kondisi jalan yang tidak rata dan tanjakan yang kelewat curam memaksa kendaraan bekerja di luar batas kemampuan. Mobil malang tersebut diduga kehilangan tenaga di tengah tanjakan, lalu mundur tak terkendali hingga terbalik. Publik pun mulai bertanya-tanya, apakah harus ada nyawa yang dikorbankan setiap tahunnya hanya untuk meyakinkan pemerintah bahwa jalan ini sudah tidak layak dilintasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Marplin Linsia Kolin, salah satu warga yang melaporkan kejadian ini, dengan nada getir mendesak pemerintah agar tidak menutup mata. Kondisi jalan di Bukit Akap sudah lama dikeluhkan, namun perbaikan yang diharapkan tak kunjung datang secara permanen. “Kejadian ini harus jadi perhatian serius. Jangan tunggu seluruh warga Derawa habis di jalan ini baru ada pergerakan,” cetusnya menagih janji pembangunan.
Ruas jalan di kawasan Badung ini memang dikenal ekstrem. Kombinasi antara kemiringan derajat tanjakan yang tinggi dengan permukaan aspal yang tidak rata atau berbatu menciptakan risiko tinggi bagi kendaraan berbeban. Bagi warga setempat, melewati jalur ini adalah pertaruhan nyawa, terutama saat kendaraan membawa muatan penuh yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi desa.

Hingga berita ini dipublikasikan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian maupun Dinas Perhubungan setempat mengenai kronologi detail atau identitas lengkap para korban. Bungkamnya pihak berwenang di tengah duka warga ini semakin memicu sentimen negatif publik yang merasa keamanan transportasi di wilayah Seruyan Tengah dianaktirikan dibandingkan wilayah perkotaan.
Sikap diam pemerintah daerah dalam menyikapi titik-titik rawan kecelakaan seperti Bukit Akap dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap hak warga atas infrastruktur yang aman. Jika perbaikan hanya sebatas tambal sulam atau bahkan tidak ada sama sekali, maka pemerintah secara tidak langsung sedang membiarkan “mesin pembunuh” tetap beroperasi bebas di jalanan Desa Gantung Pengayuh.
Publik kini menanti, apakah tragedi yang merenggut satu keluarga ini akan berujung pada alat berat yang datang memperbaiki jalan, atau hanya berakhir di meja rapat tanpa realisasi nyata. Warga tidak butuh sekadar ucapan belasungkawa formalitas; yang mereka butuhkan adalah kepastian bahwa saat mereka keluar rumah, mereka tidak pulang di dalam kantong jenazah.

Kawasan Bukit Akap/Badung secara geografis memang merupakan salah satu titik paling krusial di Seruyan Tengah. Jalur ini menghubungkan beberapa desa strategis. Namun, sejarah mencatat bahwa minimnya mitigasi risiko di jalur-jalur ekstrem seperti ini seringkali baru ditanggapi setelah jatuh korban jiwa yang menghebohkan publik.
Informasi awal menyebutkan para korban merupakan satu keluarga besar. Tragedi ini menambah daftar panjang kecelakaan lalu lintas di wilayah Kabupaten Seruyan yang diakibatkan oleh faktor kerusakan infrastruktur jalan. Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah, pilih memperbaiki jalan sekarang, atau bersiap menghadapi kemarahan publik yang lebih besar.(*)
Tim Newsline









