KUALA PEMBUANG, newsline.id – Di tengah hiruk-pikuk tuntutan publik akan pelayanan yang serba cepat, Bupati Seruyan, Ahmad Selanorwanda, memberikan tamparan keras bagi stagnasi birokrasi. Memimpin upacara peringatan Hari Otonomi Daerah (Otda) ke-XXX tahun 2026 di Aula Kantor Bupati, Senin (27/4), ia menegaskan bahwa otonomi bukan sekadar bagi-bagi kekuasaan, melainkan panggung inovasi demi martabat rakyat.
Sorot mata tegas Selanorwanda menggambarkan ambisi besar saat ia membacakan amanat Menteri Dalam Negeri yang mengusung tema strategis, “Dengan Otonomi Daerah Kita Wujudkan Asta Cita”. Baginya, tema ini bukan sekadar jargon di atas kertas, melainkan sebuah kontrak sosial untuk mengubah wajah Seruyan menjadi lebih mandiri dan kompetitif di kancah nasional maupun global.
Dihadiri Wakil Bupati, pimpinan DPRD, hingga unsur Forkopimda dalam suasana khidmat tersebut seolah menjadi saksi lahirnya komitmen baru. Bupati menekankan bahwa Indonesia yang luas ini mustahil bergerak maju jika daerah hanya menunggu instruksi pusat. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah harus menjadi mesin penggerak utama dalam mencapai target pembangunan yang selama ini dianggap mustahil.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Otonomi daerah memberikan ruang bagi kita untuk berinovasi. Namun, sinergi tetap menjadi kunci agar tujuan pembangunan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Ahmad Selanorwanda dengan nada persuasif. Ia menyentuh sisi kemanusiaan bahwa setiap kebijakan yang lahir di meja birokrat harus berujung pada senyum warga di pelosok desa.
Bukan sekadar bicara infrastruktur beton, sang Bupati menggiring opini publik pada isu yang lebih krusial Ketahanan Global. Ia mengingatkan bahwa di era digital ini, stabilitas daerah adalah benteng pertahanan terakhir. Pengendalian inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan adalah “perang” nyata yang harus dimenangkan setiap kepala daerah agar perut rakyat tetap terjamin.
Momen Hari Otda ke-30 ini dijadikan Selanorwanda sebagai ajang “bersih-bersih” mentalitas ASN. Ia menuntut peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki empati tinggi terhadap keluhan warga. Ini adalah bentuk edukasi politik bahwa pelayan publik adalah “pelayan”, bukan “raja”.
“Kita harus menjadi pemerintahan yang responsif terhadap keluhan warga. Inovasi adalah keharusan agar pelayanan kita semakin cepat, mudah, dan transparan,” tegasnya menutup pidato yang menggetarkan aula tersebut. Pesan ini menjadi alarm bagi seluruh jajaran Pemkab Seruyan bahwa era kerja manual yang lamban telah berakhir, digantikan oleh era transparansi berbasis teknologi.
Secara historis, perjalanan 30 tahun Otonomi Daerah di Indonesia merupakan proses pendewasaan demokrasi yang panjang. Sejak digulirkan pada pasca-reformasi, Otda bertujuan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Di Kabupaten Seruyan sendiri, tantangan geografis yang luas menuntut kreativitas lebih dalam menjangkau setiap denyut nadi kebutuhan warga, mulai dari pesisir hingga pedalaman.
Peringatan Hari Otda ke-30 tahun 2026 ini diselenggarakan serentak di seluruh penjuru tanah air. Data menunjukkan bahwa daerah yang sukses adalah daerah yang mampu mengonversi wewenang otonomi menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang mandiri tanpa terus-menerus bergantung pada dana perimbangan pusat. Seruyan kini berada di persimpangan jalan untuk membuktikan kemandirian tersebut melalui visi ‘Asta Cita’.
Langkah Ahmad Selanorwanda membedah ‘Asta Cita’ di Seruyan menunjukkan kepemimpinan yang futuristik. Di tengah tantangan ekonomi global, narasi yang dibangun bukan lagi soal bertahan hidup, tapi bagaimana “berlari” dengan inovasi. Warga Bumi Gawi Hatantiring kini menunggu, apakah gebrakan di Hari Otda ini akan menjadi titik balik pelayanan publik yang viral karena prestasinya, atau sekadar seremoni tahunan belaka. Satu yang pasti, Seruyan sedang bersiap melakukan lompatan besar.
Tim Newsline









