KUALA PEMBUANG, newsline.id – Di tengah gempuran arus digitalisasi yang kian tak terbendung, sebuah pesan menyentuh sekaligus memotivasi datang dari jantung Kabupaten Seruyan. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Seruyan, Zuli Eko Prasetyo, secara resmiKetua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Seruyan, Zuli Eko Prasetyo, secara resmi meluncurkan seruan moral kepada seluruh lapisan masyarakat untuk mulai menanamkan jiwa serta nilai-nilai patriotisme kepada anak-anak sejak usia dini. Langkah ini dinilai krusial sebagai investasi jangka panjang dalam membentuk fondasi moral generasi penerus di Bumi Gawi Hatantiring.
“Saya mengimbau dengan sangat kepada seluruh lapisan masyarakat, para orang tua, agar jangan lelah menanamkan jiwa-jiwa serta nilai patriotisme sejak dini kepada anak-anak kita,” tegas Zuli Eko saat ditemui di Kuala Pembuang, Minggu (26/4). Pernyataan ini bukan sekadar imbauan formal, melainkan sebuah refleksi mendalam atas pentingnya menjaga jati diri bangsa di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis dan penuh tantangan bagi identitas nasional.
Zuli Eko, yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kalimantan Tengah ini, menjelaskan secara filosofis bahwa penanaman nilai tersebut bertujuan utama untuk membentuk karakter anak yang tangguh. Harapannya, ketika mereka tumbuh dewasa kelak, mereka tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi memiliki semangat patriot dan jiwa kebangsaan yang membara serta rasa cinta tanah air yang tak tergoyahkan. Baginya, nasionalisme bukanlah sesuatu yang tumbuh instan, melainkan “benih” yang harus disiram sejak di lingkungan terkecil, yaitu keluarga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara lebih mendalam, politisi senior ini memaparkan bahwa penanaman nilai-nilai Pancasila dan semangat patriotisme yang dilakukan sejak dini adalah kunci utama untuk mencetak generasi muda yang berkualitas. Generasi yang memiliki komitmen kebangsaan tinggi dipastikan akan berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara. Karakter yang kuat di masa depan dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang positif di masa kini, terutama dalam menghargai jasa pahlawan dan memahami simbol-simbol negara.
Namun, Zuli Eko memberikan catatan kritis bahwa upaya ini mustahil terwujud tanpa sinergi dan peran aktif para orang tua. Orang tua dianggap sebagai “arsitek” utama dalam pembangunan mentalitas anak. Peran kontrol yang dimiliki orang tua di rumah merupakan benteng pertahanan pertama agar anak-anak tidak kehilangan arah. Pendidikan karakter yang dimulai dari meja makan dan interaksi harian di rumah adalah sekolah terbaik bagi calon pemimpin masa depan.
“Orang tua mempunyai peran kontrol yang mutlak terhadap anak-anaknya. Jika mereka sejak kecil sudah ditanamkan semangat serta nilai-nilai patriotisme, maka outputnya pasti akan bagus. Mereka akan menjadi manusia yang tidak hanya berkualitas secara personal, tetapi juga bermanfaat bagi orang banyak,” tambah Zuli Eko dengan nada persuasif. Pesan ini menekankan bahwa tanggung jawab mendidik anak bukan hanya tugas guru di sekolah, melainkan tugas kolektif di lingkungan keluarga.
Inovasi pemikiran yang ditawarkan adalah mengubah paradigma patriotisme yang sering dianggap kaku atau “jadul” menjadi sesuatu yang inspiratif dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Menghargai perbedaan, mencintai produk lokal, hingga menjaga kebersihan lingkungan adalah bentuk-bentuk konkret patriotisme modern yang bisa diajarkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka sejak dini. Hal ini menjadi edukasi penting bagi publik bahwa mencintai negara bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana namun berdampak luas.
Pernyataan ini muncul di saat banyak pihak mengkhawatirkan degradasi moral dan lunturnya semangat kebangsaan di kalangan milenial dan Gen Z. Seruan dari pimpinan DPRD Seruyan ini seolah menjadi pengingat bagi publik untuk kembali menilik pola asuh yang berbasis pada kearifan lokal dan nilai-nilai luhur bangsa. Jika narasi ini terus digaungkan, diharapkan muncul gerakan sosial masif di mana setiap keluarga di Seruyan menjadi laboratorium karakter bangsa.
Kabupaten Seruyan memang sedang giat mendorong berbagai program yang menyasar pada pengembangan sumber daya manusia (SDM). Data menunjukkan bahwa pemuda merupakan aset terbesar daerah ini. Oleh karena itu, penguatan karakter sejak dini menjadi selaras dengan visi pembangunan jangka panjang daerah untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dan berdaya saing tinggi namun tetap memiliki akar budaya yang kuat.
Informasi ini juga memberikan konteks sejarah bahwa kekuatan bangsa Indonesia sejak dulu terletak pada persatuan dan semangat gotong royong yang diwariskan turun-temurun. Tanpa adanya upaya sadar untuk mewariskan nilai-nilai tersebut, jati diri bangsa terancam pudar. Oleh sebab itu, langkah preventif melalui pola asuh orang tua adalah strategi paling efektif untuk menjaga kedaulatan bangsa di masa depan.
Secara keseluruhan, pesan yang disampaikan Zuli Eko Prasetyo ini bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah ajakan humanis yang menyentuh nurani setiap orang tua. Keberhasilan suatu bangsa memang tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik yang megah, melainkan dari seberapa besar semangat pengabdian dan cinta tanah air yang tertanam di hati warga negaranya.
Dengan adanya dorongan ini, diharapkan masyarakat Seruyan dapat lebih proaktif dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak mereka. Penanaman karakter bukan lagi menjadi pilihan, melainkan keharusan demi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara yang harmonis. Langkah kecil di rumah hari ini adalah lompatan besar bagi kemajuan Indonesia di hari esok.(*)
Tim Newsline









