Menggenggam Bara Transparansi, Seruyan dan Perlawanan Sunyi Melawan Korupsi

Sunday, 31 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Bupati Seruyan H. Supian, S.Ag. di dampingi Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Seruyan, Harsandi, ST, menghadiri kegiatan Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kabupaten Seruyan Tahun Anggaran 2025 yang dilaksanakan di Kantor BPK RI Perwakilan Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Jumat (29/05/2026). (Foto Protokol Seruyan)

Wakil Bupati Seruyan H. Supian, S.Ag. di dampingi Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Seruyan, Harsandi, ST, menghadiri kegiatan Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kabupaten Seruyan Tahun Anggaran 2025 yang dilaksanakan di Kantor BPK RI Perwakilan Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Jumat (29/05/2026). (Foto Protokol Seruyan)

PALANGKA RAYA, newsline.id – Jumat pagi, 29 Mei 2026. Di koridor Kantor BPK RI Perwakilan Kalimantan Tengah, seorang wakil bupati dari kabupaten terpencil di jantung Borneo berjalan masuk dengan langkah yang tidak terburu-buru. Tidak ada sorak sorai. Tidak ada karpet merah. Hanya sebuah dokumen, dan satu predikat yang bagi sebagian besar daerah di Indonesia terasa seperti puncak Himalaya, Wajar Tanpa Pengecualian. Seruyan baru saja membuktikan bahwa integritas finansial bukan monopoli kota besar.

Wakil Bupati Seruyan, H. Supian, S.Ag., dan Wakil Ketua I DPRD Seruyan, Harsandi, ST, secara resmi menerima Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2025 dengan opini tertinggi dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia: Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

lv 0 20260531222249
Wakil Bupati Seruyan H. Supian, S.Ag. dan Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Seruyan, Harsandi, ST, Tandatangani hasil LHP atas LKPD Kabupaten Seruyan Tahun Anggaran 2025 yang dilaksanakan di Kantor BPK RI Perwakilan Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Jumat (29/05/2026). (Foto Protokol Seruyan)

Hari itu, Seruyan tidak berdiri sendiri. Sebelas kabupaten di Kalimantan Tengah hadir dalam seremoni yang terasa seperti sidang pertanggungjawaban publik berskala kolosal. Namun di antara semua yang hadir, Seruyan membawa sesuatu yang lebih dari sekadar dokumen—mereka membawa preseden.

ADVERTISEMENT

banner BCChost

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi yang belum memahami bobot predikat ini, perlu diperjelas, BPK RI tidak mendistribusikan WTP seperti hadiah door prize. Lembaga tinggi negara itu membedah setiap lembar postur anggaran dengan empat pisau analisis yang sama sekali tidak kenal kompromi, kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan, kecukupan pengungkapan informasi, kepatuhan penuh terhadap regulasi, serta efektivitas sistem pengendalian internal sebagai benteng terakhir melawan fraud. Seruyan melewati semuanya.

Ada pertanyaan yang jarang diajukan dalam perayaan seperti ini, uang siapa yang sedang kita bicarakan. Jawabannya ada di ujung jalan berbatu menuju desa-desa pedalaman Seruyan. Uang itu adalah aspal yang belum selesai dibangun, ruang kelas yang masih bocor saat hujan, stok obat-obatan di puskesmas terpencil yang kerap kehabisan, dan subsidi pupuk yang sering datang terlambat ke tangan petani. Ketika setiap rupiah dipertanggungjawabkan dengan benar, janji-janji itu perlahan berubah wujud menjadi kenyataan yang bisa disentuh oleh tangan rakyat.

Baca JUga  "Sayangi Karier dan Keluarga', Pesan Menyentuh Kapolres Seruyan Saat Sidak Moral Anggota, Perangi Narkoba dari Dalam

Inilah mengapa WTP bukan sekadar urusan akuntan dan birokrat. Ini adalah urusan ibu yang mengantre di puskesmas, anak yang belajar di kelas tanpa kursi yang cukup, dan petani yang menunggu bantuan yang tak kunjung tepat sasaran. Akuntabilitas keuangan, pada ujungnya, adalah soal martabat manusia.

Untuk memahami betapa sulitnya WTP diraih, perlu diketahui bahwa BPK RI beroperasi di bawah mandat hukum yang rigid, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, serta UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang BPK. Di bawah kedua payung hukum itu, pemeriksa negara menembus empat lapis pertahanan pemeriksaan.

Kesesuaian mutlak dengan standar akuntansi pemerintahan, tidak ada ruang interpretasi kreatif. Kecukupan pengungkapan, tidak ada yang disembunyikan, tidak ada sudut gelap yang dibiarkan. Kepatuhan total terhadap seluruh regulasi yang berlaku dan Efektivitas sistem pengendalian internal, pertahanan nyata dari potensi penyelewengan. Seruyan melewati keempat filter itu. Bukan kebetulan. Bukan juga kemujuran administratif.

Di hadapan para pejabat dan perwakilan yang hadir, H. Supian berbicara dengan nada yang tidak terdengar seperti pidato kemenangan biasa. “Keberhasilan ini bukan panggung tunggal, melainkan hasil orkestrasi kerja sama seluruh perangkat daerah yang berkomitmen meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan tanpa kompromi,” ujarnya, dengan suara yang mengandung lebih banyak rasa syukur daripada kebanggaan.

Pilihan kata “orkestrasi” itu penting. Ia menegaskan bahwa tidak ada satu orang pahlawan dalam cerita ini. Di balik selembar opini WTP, ada ratusan aparatur sipil negara yang bertahun-tahun keluar dari zona nyaman sistem administrasi lama, belajar memahami standar akuntansi yang berubah, menghadapi audit internal yang melelahkan, dan membangun budaya tata kelola yang tidak bisa dibangun dalam semalam.

Baca JUga  Gubernur Jabar Apresiasi Jaksa Agung Gagas Program Jaksa Mandiri Pangan

Yang membedakan Seruyan dari daerah lain yang pernah meraih WTP lalu tergelincir kembali adalah kesadaran kritis yang mereka tunjukkan tepat di momen puncak. Pemerintah Kabupaten Seruyan tidak membiarkan pesta terlalu lama. Hampir seketika setelah menerima LHP, komitmen publik dilempar: seluruh rekomendasi dan catatan yang masih tersisa dari hasil pemeriksaan BPK RI akan segera ditindaklanjuti, bukan ditumpuk di laci meja, bukan pula dijadikan bahan rapat tanpa kesimpulan.

Langkah korektif dan preventif ini bukan formalitas. Ini adalah pengakuan jujur bahwa WTP bukan titik akhir. Ia adalah garis start bagi standar tata kelola yang lebih tinggi lagi. Kompetisi Sehat yang Seharusnya Ditakuti

Kehadiran sebelas kepala daerah dan pimpinan DPRD se-Kalimantan Tengah dalam seremoni tunggal ini mengirimkan sinyal yang tidak boleh diabaikan, akuntabilitas kini telah berubah menjadi kompetisi terbuka.

Di masa lalu, ketidaksinkronan data dan lemahnya pengendalian internal adalah wabah yang menjatuhkan marwah banyak daerah ke dalam opini yang mempermalukan mereka di hadapan publik. Kini, peta itu bergeser. Daerah yang gagal berbenah tidak hanya tertinggal dalam rapor BPK, mereka dihukum oleh mosi tidak percaya yang paling menakutkan, kehilangan kepercayaan rakyatnya sendiri.

Bagi Seruyan, keterbatasan geografis di jantung Kalimantan tidak pernah menjadi alibi. Dan itulah preseden paling berharga yang mereka tinggalkan hari ini. 

Seruyan telah membuktikan bahwa ketika komitmen politik bersinergi dengan kerja keras birokrasi, sebuah kabupaten di pedalaman Borneo mampu menyajikan standar pengelolaan keuangan yang bersih, standar yang seharusnya menjadi bahan ajar bagi daerah mana pun di Indonesia yang masih mencari alasan untuk tidak berbenah.

Namun pembuktian itu baru setengah jalan. Raihan WTP atas LKPD 2025 hanyalah satu babak. Babak berikutnya mempertahankan, memperdalam, dan mengonversi akuntabilitas finansial menjadi kesejahteraan yang terasa di tingkat rumah tangga adalah ujian yang jauh lebih berat. Publik Seruyan kini memegang tagihannya. Dan mereka tidak akan melupakan.(*)

Tim Newsline 

Berita Terkait

Datang dengan Tangan Kosong, Pulang dengan Kepala Tegak, Ironi Kontingen Seruyan di FBIM 2026
Camat Serteng Turun Tangan, Dinas PUPR Seruyan Hilang Tanpa Kabar
Menjaring Laba di Atas Tanah Merangsang, Ketika Subsidi Rakyat Jadi Ladang Rampok
33 Ekor Hewan Qurban dari Pemprov Kalteng Tiba di Seruyan, Siap Disalurkan ke Warga Kurang Mampu Jelang Idul Adha
Bupati Seruyan Tantang Diskoperindag Keluar dari Zona Nyaman demi Ekonomi Rakyat
HUT Kalteng ke-69: Saatnya Pemuda Seruyan Kuasai Teknologi Tanpa Kehilangan Jati Diri Adat!
Menanti Bukti di Tanah Seruyan: Ketika Sekolah Rakyat Hanya Jadi ‘Omon-Omon’ Politik dan Lahan Masih Gaib
Ketika Teladan Kehilangan Arah: Sisi Kelam Krisis Moral Aparatur di Seruyan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Tuesday, 2 June 2026 - 22:46 WITA

Datang dengan Tangan Kosong, Pulang dengan Kepala Tegak, Ironi Kontingen Seruyan di FBIM 2026

Sunday, 31 May 2026 - 23:51 WITA

Menggenggam Bara Transparansi, Seruyan dan Perlawanan Sunyi Melawan Korupsi

Friday, 29 May 2026 - 15:50 WITA

Menjaring Laba di Atas Tanah Merangsang, Ketika Subsidi Rakyat Jadi Ladang Rampok

Tuesday, 26 May 2026 - 22:18 WITA

33 Ekor Hewan Qurban dari Pemprov Kalteng Tiba di Seruyan, Siap Disalurkan ke Warga Kurang Mampu Jelang Idul Adha

Tuesday, 26 May 2026 - 21:49 WITA

Bupati Seruyan Tantang Diskoperindag Keluar dari Zona Nyaman demi Ekonomi Rakyat

Berita Terbaru

PALANGKA RAYA

Menakar Harga Sebuah Independensi Jurnalis 

Tuesday, 2 Jun 2026 - 17:52 WITA

Sabtu malam, 30 Mei 2026, pukul 23.35 WIB. Seorang mantan brigadir polisi, terpidana dengan vonis seumur hidup, ditemukan tak bernyawa di dalam kamar yang paling dijaga di seluruh kompleks penjara Lapas Kelas IIa Palangka Raya.

HUKUM & PERISTIWA

Tewas di Balik Dinding yang Paling Dijaga

Monday, 1 Jun 2026 - 02:48 WITA

PALANGKA RAYA

Ketika Pers Lupa Pancasila: Refleksi Pahit di Hari Lahir Dasar Negara

Sunday, 31 May 2026 - 13:13 WITA