KUALA PEMBUANG, newsline.id – Di bawah lampu sorot Festival Budaya Isen Mulang 2026, sembilan puluh satu delegasi Kabupaten Seruyan melangkah masuk ke arena dengan sesuatu yang lebih berat dari sekadar kostum adat, mereka membawa mandat politik yang ambisius, namun datang dengan bekal yang tidak sepadan.
Peringkat ke-8 dari 14 kabupaten/kota peserta adalah angka yang berbicara lebih keras dari pidato seremonial manapun.
Beberapa hari sebelum keberangkatan, Bupati Ahmad Selanorwanda berdiri di hadapan kontingen dengan suara yang meninggi. Pesannya tidak ambigu, setiap cabang yang diikuti harus mampu bertengger di tiga besar se-Kalimantan Tengah. Bukan imbauan. Ini adalah target.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Menang dan kalah itu biasa,” ujarnya, “namun akan lebih baik apabila setiap cabang yang kita ikuti bisa berada di peringkat tiga teratas.” Ia menekankan sportivitas, kekompakan, nama baik daerah, dan keselamatan dalam satu tarikan napas yang sama. Ia pun mendorong pembinaan berkelanjutan sejak dini untuk cabang unggulan balogo, mangaruhi, maneweng, hingga karungut sebagai jalan panjang menuju podium. Namun, ambisi tanpa infrastruktur adalah retorika. Dan di sinilah narasi Seruyan mulai retak.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan (Disporaparbud) Seruyan, Megawati, tidak berusaha menutupi kenyataan. Persiapan tim, ia akui sejak awal, belum sepenuhnya optimal. Frasa itu terdengar halus, namun implikasinya konkret dan menyakitkan.
Seruyan absen dari dua cabang bergengsi, Lawang Sakepeng dan vokal solo, dua arena yang dalam peta kompetisi FBIM selama ini dikenal sebagai lumbung poin potensial.
Penyebabnya? Keterlambatan menerima informasi teknis tambahan dari panitia, yang kemudian berimbas pada ketidaksiapan sistem penganggaran daerah. Dengan kata lain, dana tidak tersedia bukan karena kas daerah kosong, melainkan karena mekanisme administrasi gagal bergerak cukup cepat untuk merespons kebutuhan yang sebenarnya sudah terprediksi. Ini bukan kegagalan atlet. Ini adalah kegagalan sistem.
Namun menuding kontingen sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas hasil ini adalah kesimpulan yang tidak adil dan tidak akurat.
Di tengah sempitnya waktu latihan dan minimnya dukungan anggaran, sembilan puluh satu “ksatria budaya” Seruyan tetap hadir, tetap tampil, dan dalam sejumlah cabang, tetap memukau. Cabang-cabang baru seperti menjawet uwei dan mengenta, yang menuntut kesiapan teknis tersendiri tetap diikuti dengan kepala tegak. Penampilan mereka, menurut catatan dari lapangan, berhasil menarik apresiasi luas dari penonton dan pengunjung festival.
Pada Senin, 25 Mei 2026, Megawati menyampaikan rasa bangga dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh peserta, pelatih, dan seniman. Determinasi mereka menjaga marwah Bumi Gawi Hatantiring, sebutan kebanggaan Kabupaten Seruyan, tidak bisa diukur semata dengan angka peringkat. Peringkat ke-8 bukan bencana. Ia adalah sinyal.
Jika Bupati Ahmad Selanorwanda sungguh-sungguh percaya bahwa budaya adalah harga diri daerah yang harus dipertahankan di level tiga teratas, maka ada konsekuensi logis yang tidak bisa dihindari, pola komunikasi administratif yang lamban harus dirombak, dan alokasi anggaran pembinaan budaya harus diperlakukan bukan sebagai pos sekunder, melainkan sebagai investasi strategis jangka panjang.
Festival seperti FBIM bukan sekadar perayaan. Ia adalah ujian berkala terhadap keseriusan sebuah daerah dalam merawat identitas kulturalnya. Absen dari satu cabang akibat kelambanan birokrasi bukan sekadar kehilangan poin, ia adalah hilangnya ruang ekspresi bagi seniman yang telah berlatih, dan hilangnya representasi bagi masyarakat yang budayanya seharusnya hadir di panggung itu.
FBIM 2026 telah usai. Kini Seruyan kembali ke ruang rapat, ke meja anggaran, ke kalender perencanaan tahunan.
Pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang salah. Pertanyaannya adalah, apakah evaluasi pasca-festival ini akan melahirkan cetak biru pembinaan yang terstruktur, dengan jalur identifikasi bakat sejak dini, mekanisme anggaran yang responsif, dan sistem informasi yang tidak lagi kecolongan tenggat ataukah Seruyan akan kembali datang tahun depan dengan masalah yang persis sama.
Pilihan itu tidak berada di tangan para atlet yang telah berjuang. Pilihan itu berada sepenuhnya di tangan para pemangku kebijakan. Dan publik sedang mencatat. Tulisan ini disusun berdasarkan pernyataan resmi Bupati Seruyan dan Kepala Disporaparbud Seruyan dalam rangkaian kegiatan Festival Budaya Isen Mulang 2026 di Palangka Raya.(*)
Tim Newsline









