Deklarasi Perang Digelar Megah, Nasib Tiga Polisi yang Gugur Sekadar Jadi Sambutan

Friday, 21 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PALANGKA RAYA, newsline.id – Ribuan orang memadati Bundaran Besar Palangka Raya, Kamis (20/8/2026). Bukan konser, bukan pula perayaan biasa. Mereka datang untuk sebuah ikrar, perang melawan narkoba. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran, Kepala BNN RI Komjen Pol Suyudi Ario Seto, jajaran Forkopimda, Gerakan Dayak Anti Narkoba (GDAN), pelajar dan mahasiswa berdiri dalam satu barisan mendeklarasikan “Perang Melawan Narkoba di Bumi Tambun Bungai Menuju Kalteng Bersinar.”

Angka yang dibawa BNN RI cukup untuk membuat siapa pun terdiam: 2,11 persen penduduk Indonesia, setara 4,15 juta jiwa, terpapar penyalahgunaan narkotika. Kelompok usia 15-24 tahun—usia pelajar dan mahasiswa yang hari itu berdiri di barisan depan deklarasi—menjadi kelompok paling rentan.

“Narkoba merupakan ancaman serius yang dapat merusak masa depan generasi muda, sehingga harus dicegah dan diperangi secara bersama-sama,” tegas Agustiar dalam sambutannya.

ADVERTISEMENT

banner BCChost

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun di balik seremoni penuh simbol itu, ada kisah yang menahan napas siapa saja yang mendengarnya. Ketua GDAN, Sadagori Henoch Binti, mengungkap bahwa deklarasi ini juga penghormatan bagi tiga anggota Polri Polres Katingan yang gugur menjalankan tugas: Aipda Anumerta Yudhie Perdana Putra, Briptu/Bripda Anumerta Nopandri Ramadana, dan Ipda/Aiptu Anumerta Sumariyanto. Tiga nama yang jarang disebut media, kini menjadi alasan kenapa “perang” bukan sekadar kiasan.

Baca JUga  Badai PHK Hantam Kalteng, Disnaker Jangan Jadi 'Penonton' Saat Hak Buruh Dikebiri

“Jangan beri ruang. Jangan beri celah bagi para mafia narkoba di tanah leluhur kita,” serunya, disambut gemuruh dari ribuan pelajar SMA se-Kota Palangka Raya dan mahasiswa berbagai universitas yang hadir.

Yang membuat momen ini berbeda dari seremoni serupa sebelumnya, Sadagori sendiri adalah mantan pecandu. Ia mengaku pernah terjerat sabu-sabu dan ekstasi sebelum akhirnya pulih. “Saya sudah 19 tahun bertobat. Hidup saya sudah 19 tahun bebas dan keluar dari neraka narkoba,” ujarnya, kalimat yang mengubah panggung seremonial menjadi ruang pengakuan yang jujur dan menohok.

Kepala BNN RI Suyudi Ario Seto menegaskan, ancaman narkotika kini jauh lebih licin dari yang dibayangkan publik. Modus tak lagi terbatas pada serbuk dan pil. New Psychoactive Substances (NPS), rokok elektrik yang disusupi zat terlarang, hingga narkotika cair mulai ditemukan di lapangan. “Bandar semakin lihai, strategi marketing mereka semakin pintar,” katanya, menyebut jaringan gelap kini merambah dark web, marketplace daring, hingga jasa kargo dan logistik.

Indonesia, tegasnya, tak lagi sekadar pasar tapi mulai menjadi lokasi produksi. Sejumlah clandestine laboratory sudah terbongkar di berbagai wilayah, sinyal bahwa persoalan ini bergerak jauh melampaui urusan penindakan jalanan.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemprov Kalteng menghibahkan lima bangunan untuk memperkuat kelembagaan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) di berbagai daerah. “Terima kasih kepada Bapak Gubernur yang memiliki kepedulian yang luar biasa,” ujar Suyudi.

Baca JUga  Gebrakan Magister Baru UMPR, Bukan Sekadar Gelar, Tapi Menjadi 'Problem Solver' bagi Kalimantan Tengah

Simbol paling kuat hari itu adalah penyerahan sepuluh tongkat komando kepada para pemimpin daerah Kapolda, Pangdam, Kabinda, Kejati, Wali Kota Palangka Raya, hingga Ketua GDAN. “Tidak ada tempat tersembunyi bagi para sindikat di tanah ini. Kita tidak akan memberikan ruang kompromi,” tegas Suyudi.

BNN RI turut memperkenalkan program Ananda Bersinar, Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak, yang menempatkan anak sebagai subjek utama perlindungan, bukan sekadar objek sosialisasi setelah menjadi korban.

Pertanyaannya kini bukan lagi soal seberapa megah deklarasi ini digelar, melainkan seberapa jauh komitmen ini bertahan setelah panggung dibongkar dan tongkat komando disimpan di lemari kantor. Tiga nama polisi yang gugur, dan satu pengakuan jujur seorang mantan pecandu, seharusnya cukup untuk memastikan Kalteng tak kembali ke rutinitas seremoni tanpa tindak lanjut. Saya tunjukkan dua aja ada karena

Deklarasi ditutup dengan seruan “Isen Mulang, Pantang Mundur!” tekad Dayak yang kini dipertaruhkan bukan di medan perang fisik, tapi di ruang kelas, gang sempit, dan linimasa media sosial tempat narkoba kini bersembunyi.(*)

Tim Newsline ID

Berita Terkait

Ketika 3.896 Hektare Kalteng Sudah Terbakar, Menteri Baru Datang Melihat
Gelap Berulang di Ibu Kota Kalteng, Gubernur Agustiar: “Disayangkan!”
Sawit Kalteng : Emas Hijau yang Belum Merata
Ironi Kalteng, Provinsi Terluas yang Terjebak di Kubangan Jalan Rusak
Ketika Pers Lupa Pancasila: Refleksi Pahit di Hari Lahir Dasar Negara
Zirkon Kalteng, Anatomi Korupsi Pertambangan Senilai 281 Miliar
Jalan Biru Palangka Raya Luntur Diguyur Hujan, Ketua DPRD Kalteng Sebut Wartawan Provokator!
Kontradiksi Istana Isen Mulang; Gubernur Agustiar Buka Keran Informasi, Oknum Pejabat Kalteng Masih Alergi Wartawan
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 21 August 2026 - 00:13 WITA

Deklarasi Perang Digelar Megah, Nasib Tiga Polisi yang Gugur Sekadar Jadi Sambutan

Thursday, 20 August 2026 - 06:31 WITA

Ketika 3.896 Hektare Kalteng Sudah Terbakar, Menteri Baru Datang Melihat

Wednesday, 1 July 2026 - 05:08 WITA

Gelap Berulang di Ibu Kota Kalteng, Gubernur Agustiar: “Disayangkan!”

Monday, 8 June 2026 - 16:46 WITA

Sawit Kalteng : Emas Hijau yang Belum Merata

Saturday, 6 June 2026 - 21:26 WITA

Ironi Kalteng, Provinsi Terluas yang Terjebak di Kubangan Jalan Rusak

Berita Terbaru

Pemerintahan

Menyoal Otonomi Semu di Balik Meja Kasir Rumah Sakit Daerah

Friday, 4 Sep 2026 - 22:35 WITA