Jalan Biru Palangka Raya Luntur Diguyur Hujan, Ketua DPRD Kalteng Sebut Wartawan Provokator!

Tuesday, 26 May 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Arton S. Dohong Saat diwawancarai wartawan di Palangka Raya..

Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Arton S. Dohong Saat diwawancarai wartawan di Palangka Raya..

PALANGKA RAYA, newsline.id – Wajah estetika Kota Palangka Raya yang digadang-gadang bakal tampil memukau menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) justru berujung polemik panas. Proyek pengecatan jalan protokol berwarna biru yang menelan anggaran publik kini mulai luntur dan mengelupas setelah diguyur hujan deras. Ironisnya, saat dimintai pertanggungjawaban oleh awak media di Palangka Raya pada Selasa (19/5/2026), Ketua DPRD Kalteng, Arton S. Dohong, justru merespons dengan nada tinggi dan menuding wartawan sebagai “provokator” sebelum akhirnya melenggang pergi.

“Sudahlah, saudara ini mau jadi provokator aja,” cetus Arton S. Dohong ketus sembari meninggalkan kerumunan wartawan yang mencecarnya dengan pertanyaan terkait keresahan masyarakat.

Sikap defensif dari pucuk pimpinan wakil rakyat ini langsung memicu gelombang kritik baru di dunia maya. Ketika publik menuntut transparansi atas kualitas infrastruktur yang dibiayai dari keringat pajak mereka, respons “alergi kritik” dari seorang pejabat publik justru menjadi pemantik api yang membuat isu ini viral. Masyarakat mempertanyakan fungsi pengawasan legislatif yang seolah mandul dan menutup mata atas realita di lapangan.

ADVERTISEMENT

banner BCChost

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sindrom ‘Asal Bapak Senang’ di Lingkungan Pemprov Kalteng

Kontras dengan sikap antipati Ketua DPRD, Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran, justru membongkar borok di internal pemerintahannya sendiri. Dalam jumpa pers resmi di Palangka Raya, Agustiar secara gamblang menyoroti adanya indikasi pola kerja destruktif berorientasi ‘Asal Bapak Senang’ (ABS) di tingkat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bertanggung jawab atas proyek kosmetik jalanan ini.

Baca JUga  Legislator Desak PUPR Kalteng Perbaikan Jalan HM Arsyad Sampit Sebelum Nyawa Kembali Melayang

“Kami lihat OPD-nya ABS kayaknya, dia perintah anak buahnya, dia tidak kontrol ke lapangan,” ungkap Agustiar dengan nada kecewa yang mendalam. Gubernur tak menampik bahwa niat baik untuk mempercantik ibu kota provinsi malah berubah menjadi blunder memalukan karena lemahnya fungsi kontrol dan eksekusi yang asal-asalan di lapangan.

Kekecewaan nomor satu di Kalteng ini sangat beralasan. Proyek yang seharusnya menjadi kado visual yang membanggakan bagi warga di hari jadi provinsi, kini justru menyisakan pemandangan jalanan yang belang-belang dan kumuh akibat cat yang luntur. Di sinilah letak edukasi penting bagi birokrasi: estetika tanpa kualitas adalah pemborosan anggaran yang nyata.

Inspektorat Turun Tangan: Opsi Hukum atau Lanjut Pengerjaan?

Menyikapi kekacauan ini, Pemerintah Provinsi Kalteng bergerak cepat dengan menginstruksikan Inspektorat untuk melakukan audit, pemeriksaan, dan evaluasi total terhadap pelaksanaan proyek pengecatan tersebut. Langkah ini diambil guna menyelidiki apakah ada unsur kelalaian spesifikasi atau bahkan potensi kerugian negara di balik lturnya cat biru tersebut.

Baca JUga  Sawit Kalteng : Emas Hijau yang Belum Merata

Saat ini, Pemprov Kalteng tengah menimbang dua opsi krusial untuk menyelamatkan muka anggaran negara. Opsi pertama adalah menghentikan total proyek dan menempuh jalur hukum secara tegas terhadap kontraktor pelaksana. Sementara opsi kedua, yang saat ini dipilih sementara, adalah melanjutkan pekerjaan dengan pengawasan super ketat sembari menunggu hasil investigasi mendalam dari pihak Inspektorat.

Jejak Biru yang Memudar di Jantung Kota

Proyek kosmetik jalanan berwarna biru ini awalnya dirancang untuk menyelimuti sejumlah titik urat nadi dan kawasan strategis di Kota Palangka Raya. Berdasarkan data yang dihimpun, pengecatan ini mencakup kawasan ikonik Bundaran Besar, Jalan Imam Bonjol, Bundaran Kecil, Jalan RTA Milono, Jalan Yos Sudarso, Jalan Thamrin, Jalan G. Obos, Jalan D.I. Panjaitan, hingga Jalan Katamso.

Kini, jalur-jalur protokol yang saban hari dilewati oleh ribuan warga tersebut justru menjadi panggung tontonan drama kegagalan infrastruktur. Alih-alih melahirkan rasa bangga menjelang HUT Kalteng ke-69, proyek jalan biru ini justru menjadi pengingat keras bagi publik tentang pentingnya transparansi, profesionalisme kerja, dan sikap antikritik pejabat yang harus segera ditiadakan dari bumi Pancasila.(*)

Tim Newsline

Berita Terkait

Deklarasi Perang Digelar Megah, Nasib Tiga Polisi yang Gugur Sekadar Jadi Sambutan
Ketika 3.896 Hektare Kalteng Sudah Terbakar, Menteri Baru Datang Melihat
Gelap Berulang di Ibu Kota Kalteng, Gubernur Agustiar: “Disayangkan!”
Sawit Kalteng : Emas Hijau yang Belum Merata
Anggaran Dipangkas, Kualitas Tak Boleh Ikut Terpangkas
Ironi Kalteng, Provinsi Terluas yang Terjebak di Kubangan Jalan Rusak
Ketika Pers Lupa Pancasila: Refleksi Pahit di Hari Lahir Dasar Negara
Zirkon Kalteng, Anatomi Korupsi Pertambangan Senilai 281 Miliar
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 21 August 2026 - 00:13 WITA

Deklarasi Perang Digelar Megah, Nasib Tiga Polisi yang Gugur Sekadar Jadi Sambutan

Thursday, 20 August 2026 - 06:31 WITA

Ketika 3.896 Hektare Kalteng Sudah Terbakar, Menteri Baru Datang Melihat

Wednesday, 1 July 2026 - 05:08 WITA

Gelap Berulang di Ibu Kota Kalteng, Gubernur Agustiar: “Disayangkan!”

Monday, 8 June 2026 - 16:46 WITA

Sawit Kalteng : Emas Hijau yang Belum Merata

Sunday, 7 June 2026 - 19:26 WITA

Anggaran Dipangkas, Kualitas Tak Boleh Ikut Terpangkas

Berita Terbaru

Pemerintahan

Menyoal Otonomi Semu di Balik Meja Kasir Rumah Sakit Daerah

Friday, 4 Sep 2026 - 22:35 WITA