Sawit Kalteng : Emas Hijau yang Belum Merata

Monday, 8 June 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Produksi Turun, Konflik Lahan Membara.
Siapa yang Sesungguhnya Menikmati Manfaatnya?

Produksi Turun, Konflik Lahan Membara. Siapa yang Sesungguhnya Menikmati Manfaatnya?

Produksi Turun, Konflik Lahan Membara. Siapa yang Sesungguhnya Menikmati Manfaatnya?

PALANGKA RAYA, newsline.id – Di atas jutaan hektare lahan gambut Kalimantan Tengah, pohon-pohon kelapa sawit berdiri seperti tentara berbaris rapi. Mereka adalah mesin devisa, penopang APBD, dan janji kemakmuran yang selama ini digantungkan pada pundak provinsi berjuluk Bumi Tambun Bungai. Namun di balik kilau “emas hijau” itu, tersimpan luka yang belum juga mengering: konflik lahan yang berulang, hak plasma yang mangkrak, dan pemerataan kesejahteraan yang masih jauh dari kata tuntas.

Pada 2026, sektor kelapa sawit Kalteng menghadapi ujian ganda. Di satu sisi, permintaan pasar global terus menanjak. Di sisi lain, produksi Tandan Buah Segar (TBS) justru tertekan akibat program peremajaan masif ‘replanting’ yang menyasar pohon-pohon berusia 20 hingga 30 tahun yang sudah uzur dan tidak produktif.

ADVERTISEMENT

banner BCChost

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kebutuhan itu selalu meningkat, hanya produksinya yang menurun. Karena produksi kelapa sawit di Kalimantan Tengah sudah banyak yang replanting,” ujar Rawing Rambang, pengamat ekonomi perkebunan sekaligus dosen Universitas Kristen Palangka Raya (UKPR), di Palangka Raya, berapa waktu lalu, menggambarkan paradoks yang kini membayangi sektor andalan Kalteng.

Proses peremajaan dilakukan secara bertahap, meliputi sekitar 20 hingga 30 persen dari total luas lahan produktif. Artinya, dalam rentang beberapa tahun ke depan, produksi TBS akan tertekan sebelum akhirnya pulih — bahkan diproyeksikan melonjak lebih tinggi dari sebelumnya.

Baca JUga  Kontradiksi Istana Isen Mulang; Gubernur Agustiar Buka Keran Informasi, Oknum Pejabat Kalteng Masih Alergi Wartawan

Sementara itu, harga TBS di Kalteng relatif tangguh, kerap bertahan di atas Rp3.000 per kilogram untuk berbagai kelompok umur tanaman. Angka yang cukup menjanjikan, setidaknya di atas kertas.

Data ekonomi Kalteng 2025 mencatat pertumbuhan sebesar 4,71 persen dengan inflasi tahunan terkendali di angka 3,13 persen. Selisih positif ini disebut sebagai modal penting stabilitas ekonomi daerah. Pemerintah pusat pun menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional melampaui 6 persen, target ambisius yang menuntut setiap daerah memaksimalkan sektor unggulannya. Sawit, sudah tentu, adalah kartu truf Kalteng.

Namun angka makro yang berkilau itu menyembunyikan kenyataan pahit di level akar rumput. Banyak petani plasma, mereka yang seharusnya menjadi mitra strategis perusahaan perkebunan justru terjebak dalam sengketa berkepanjangan soal realisasi lahan yang tidak sesuai perjanjian. Pekerja perkebunan memang mendapatkan jaminan upah minimum, tetapi besarannya sangat bervariasi dan kerap tidak sebanding dengan beban kerja dan risiko yang ditanggung.

Di wilayah Seruyan, ketegangan antara warga dan perusahaan perkebunan bukan kabar baru. Konflik soal penyerobotan lahan dan hak plasma yang tidak terealisasi telah berulang kali memicu gesekan sosial. Warga yang semula menaruh harapan besar pada kehadiran perusahaan, perlahan berbalik menjadi pihak yang merasa dirugikan.

Penelitian Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) di Kabupaten Lamandau (tetangga Seruyan) menemukan fakta yang mengkhawatirkan: sebagian besar masyarakat belum sepenuhnya memahami dampak kehadiran perkebunan sawit, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Mereka lebih terfokus pada ketersediaan lapangan kerja jangka pendek, sementara dampak jangka panjang yakni penyempitan ruang kelola, kerusakan ekosistem, dan ketimpangan distribusi manfaat yang luput dari perhatian.

Baca JUga  Dari Meja Kayu ke Podium Nasional, ORADO Kalteng Menyatakan Perang Terhadap Stigma

Alih fungsi lahan yang masif telah mempersempit ruang hidup masyarakat adat dan petani kecil. Lingkungan yang rusak bukan sekadar angka dalam laporan AMDAL. Ia adalah air yang mengering di musim kemarau, kebun yang tidak lagi subur, dan udara yang sesak saat kebakaran lahan menyala.

Di tengah kompleksitas masalah itu, Rawing Rambang masih menyimpan optimisme. Ia memproyeksikan bahwa keberhasilan program peremajaan pada akhirnya akan memperbaiki kondisi ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat. ‘Kita berharap daya beli masyarakat juga akan meningkat,” katanya.

Namun harapan itu akan tetap menjadi angan-angan jika persoalan struktural tidak diselesaikan secara serius. Pemerintah daerah dituntut tidak hanya piawai mengelola pertumbuhan makroekonomi, tetapi juga berani mengurai benang kusut konflik agraria, memastikan hak plasma benar-benar terealisasi, dan mendorong perusahaan untuk bertanggung jawab penuh atas dampak sosial dan lingkungan yang ditinggalkannya.

Kelapa sawit Kalimantan Tengah adalah cermin Indonesia, kaya di satu sisi, timpang di sisi lain. Ia bisa menjadi instrumen pemberdayaan yang sesungguhnya atau sekadar mesin ekstraksi yang menguntungkan segelintir pihak sambil membiarkan mayoritas hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri. Pilihan itu ada di tangan pengambil kebijakan dan waktu untuk memilih sudah semakin sempit.(*)

Tim Newsline 

Berita Terkait

Ironi Kalteng, Provinsi Terluas yang Terjebak di Kubangan Jalan Rusak
Ketika Pers Lupa Pancasila: Refleksi Pahit di Hari Lahir Dasar Negara
Zirkon Kalteng, Anatomi Korupsi Pertambangan Senilai 281 Miliar
Jalan Biru Palangka Raya Luntur Diguyur Hujan, Ketua DPRD Kalteng Sebut Wartawan Provokator!
Kontradiksi Istana Isen Mulang; Gubernur Agustiar Buka Keran Informasi, Oknum Pejabat Kalteng Masih Alergi Wartawan
Menyalakan Kembali Api Huma Betang, Ketika Rumah Panjang Bukan Lagi Sebatas Ukiran Kayu
Dari Meja Kayu ke Podium Nasional, ORADO Kalteng Menyatakan Perang Terhadap Stigma
ISEN MULANG: PANTANG MATI DI ERA ALGORITMA
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Monday, 8 June 2026 - 16:46 WITA

Sawit Kalteng : Emas Hijau yang Belum Merata

Saturday, 6 June 2026 - 21:26 WITA

Ironi Kalteng, Provinsi Terluas yang Terjebak di Kubangan Jalan Rusak

Sunday, 31 May 2026 - 13:13 WITA

Ketika Pers Lupa Pancasila: Refleksi Pahit di Hari Lahir Dasar Negara

Wednesday, 27 May 2026 - 19:01 WITA

Zirkon Kalteng, Anatomi Korupsi Pertambangan Senilai 281 Miliar

Tuesday, 26 May 2026 - 03:18 WITA

Jalan Biru Palangka Raya Luntur Diguyur Hujan, Ketua DPRD Kalteng Sebut Wartawan Provokator!

Berita Terbaru

KOTA PALANGKA RAYA

Dana Hibah Pilkada Kalteng: 2 KPU, 2 Skandal, Nol Tersangka

Monday, 8 Jun 2026 - 22:22 WITA

Produksi Turun, Konflik Lahan Membara.
Siapa yang Sesungguhnya Menikmati Manfaatnya?

KALIMANTAN TENGAH

Sawit Kalteng : Emas Hijau yang Belum Merata

Monday, 8 Jun 2026 - 16:46 WITA

Nenie Lambung: Efisiensi Bukan Alibi Pembangunan Kelas Dua

LEGISLATOR

Anggaran Dipangkas, Kualitas Tak Boleh Ikut Terpangkas

Sunday, 7 Jun 2026 - 19:26 WITA

Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Tengah, Maryani Sabran, memprotes keras sikap apatis ego sektoral yang kerap dijadikan tameng oleh pemerintah daerah. Baginya, keselamatan nyawa masyarakat jauh lebih berharga ketimbang perdebatan administratif mengenai status jalan nasional atau jalan daerah.

KALIMANTAN TENGAH

Ironi Kalteng, Provinsi Terluas yang Terjebak di Kubangan Jalan Rusak

Saturday, 6 Jun 2026 - 21:26 WITA