PALANGKA RAYA, newsline.id – Di bawah rindang pepohonan Makam Pahlawan Nasional Sanaman Lampang, Rabu (1/7), puluhan pengurus dan kader PDI Perjuangan Kota Palangka Raya menundukkan kepala. Bukan sekadar ritual tabur bunga tahunan, ziarah kali ini menjadi arena pertaruhan ideologis: mampukah partai berlambang banteng ini membuktikan bahwa nilai-nilai Bung Karno bukan sekadar jargon yang dipanggungkan setiap Juni, melainkan denyut nyata dalam politik yang berpihak kepada rakyat kecil.
Rombongan yang dipimpin Ketua DPC Nenie Adriati Lambung, didampingi Sekretaris DPC Marthen Eka Palmarum dan Bendahara Lauw Wien Hau, memulai rangkaian dengan doa bersama, tabur bunga, lalu refleksi kebangsaan yang menjadi inti dari seluruh rangkaian Bulan Bung Karno dan Haul Bung Karno 2026.
Nenei Adriati Lambung menegaskan bahwa kegiatan ini bukan seremoni kosong. “Ziarah Kebangsaan ini bukan hanya untuk mengenang sosok Bung Karno, tetapi juga menjadi momentum meneguhkan kembali tekad perjuangan kita sebagai kader PDI Perjuangan,” ujarnya, sembari menyebut semangat nasionalisme dan nilai-nilai Marhaenisme harus terus hidup dalam setiap gerak langkah kader.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan itu menyimpan pertaruhan besar. Sebab, mengklaim mewarisi Marhaenisme jauh lebih mudah diucapkan di pusara pahlawan ketimbang dibuktikan lewat kebijakan yang berpihak pada petani, buruh, dan masyarakat marjinal di lapangan. Publik kini menanti, apakah semangat yang digaungkan di pemakaman ini akan bertransformasi menjadi aksi politik nyata, atau justru menguap begitu bulan Juni berlalu.
Nenei menjelaskan, Bulan Bung Karno semestinya menjadi ruang evaluasi arah perjuangan organisasi, bukan sekadar nostalgia sejarah. Sebagai partai kader ideologis, PDI Perjuangan mengemban tanggung jawab menjaga dan mengaktualisasikan ajaran Bung Karno dalam kehidupan berbangsa. Konsekuensinya, kader dituntut memiliki kepekaan sosial dan keberanian hadir di tengah persoalan masyarakat, bukan hanya kapasitas intelektual di atas kertas.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menambah spirit nasionalisme dan semangat perjuangan kader PDI Perjuangan selaku kaum Marhaen. Bung Karno telah mewariskan nilai-nilai perjuangan yang tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan,” tegasnya.
Kalimat itu menjadi semacam tamparan reflektif bagi partai itu sendiri. Sebab, gagasan Trisakti Bung Karno—berdaulat politik, berdikari ekonomi, berkepribadian budaya—kerap dikutip dalam pidato-pidato seremonial, namun implementasinya di daerah seperti Kalimantan Tengah masih menjadi tanda tanya besar, terutama menyangkut pemerataan ekonomi dan keberpihakan pada masyarakat adat serta kelompok rentan.

Bagi PDI Perjuangan, ziarah ke makam pahlawan bukan sekadar formalitas politik menjelang tahun-tahun strategis, melainkan upaya menghidupkan kembali keberpihakan terhadap kaum Marhaen. Selain ruang refleksi ideologis, momentum ini juga dimanfaatkan untuk mempererat soliditas internal, mengingat kekompakan organisasi dinilai menjadi modal penting mengawal nilai kebangsaan sekaligus melanjutkan cita-cita Bung Karno di tengah dinamika politik lokal yang kian kompetitif.
Wakil Ketua II DPRD Kota Palangka Raya ini, menambahkan bahwa perjuangan politik tidak melulu soal kekuasaan. “Melalui haul Bung Karno ini kami ingin kembali menguatkan semangat perjuangan beliau, yaitu politik yang berpihak kepada rakyat, mengedepankan semangat gotong royong, serta membangun kemandirian ekonomi bangsa,” katanya. Ia menegaskan nilai-nilai itu harus terus hidup dan menjadi pedoman dalam setiap langkah perjuangan kader.
Ia berharap momentum ini memperkuat soliditas seluruh kader, baik pengurus partai maupun anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPRD Kota Palangka Raya—sebuah harapan yang sekaligus menjadi ukuran keberhasilan sesungguhnya: apakah kekompakan di ruang seremoni akan berlanjut menjadi konsistensi sikap politik di ruang sidang dewan.
Sebagai catatan sejarah, Sanaman Lampang bukan sembarang pemakaman. Ia adalah tempat peristirahatan para pahlawan yang gugur memperjuangkan kemerdekaan dan integrasi Kalimantan Tengah ke dalam Republik Indonesia, menjadikannya simbol perlawanan daerah terhadap segala bentuk penindasan simbol yang relevan disandingkan dengan semangat Marhaenisme yang membela wong cilik.
Rangkaian Bulan Bung Karno 2026 di Palangka Raya ini pada akhirnya menyisakan pekerjaan rumah yang lebih besar dari sekadar tabur bunga: mengubah kalimat “berpihak kepada rakyat” dari jargon peringatan tahunan menjadi kebijakan yang bisa dirasakan langsung oleh kaum Marhaen di Kota Cantik Palangka Raya. (*)
Tim Newsline: Syamsudin Dinata









