PALANGKA RAYA, newsline.id – Di balik gemerlap pembangunan kota, sebuah alarm keras berbunyi dari kursi parlemen. Wakil Ketua II DPRD Kota Palangka Raya, Nenie Adriati Lambung, membongkar fakta pahit mengenai jeritan pendidikan di wilayah pinggiran yang seolah “terlupakan”. Pada momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Nenie menegaskan bahwa distribusi guru yang timpang dan infrastruktur yang bobrok bukan sekadar masalah teknis, melainkan ancaman nyata bagi masa depan generasi muda Kalteng.
“Pendidikan adalah fondasi utama pembangunan daerah. Kita tidak bisa bicara kemajuan jika akses pendidikan berkualitas hanya menjadi milik masyarakat perkotaan, sementara saudara kita di pelosok terabaikan,” tegas Nenie dengan nada persuasif namun kritis saat ditemui di gedung dewan, Selasa (5/5).
Darurat Guru: Bukan Sekadar Pengajar, Tapi Pembentuk Karakter
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nenie secara provokatif menyoroti bahwa persoalan utama bukan hanya pada gedung sekolah yang mulai retak, melainkan pada “napas” pendidikan itu sendiri yakin Kualitas Tenaga Pendidik. Menurutnya, guru adalah profesi paling strategis yang memegang kunci pembentukan karakter manusia. Tanpa peningkatan kualitas dan distribusi guru yang merata, mustahil menciptakan generasi unggul yang mampu bersaing di kancah global.
Kesenjangan ini menciptakan krisis moral dan kompetensi. Di saat anak kota menikmati fasilitas digital, anak-anak di pinggiran harus berjuang dengan sarana seadanya dan keterbatasan jumlah tenaga pendidik. Hal ini, menurut Nenie, harus menjadi tamparan keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera melakukan langkah konkret, bukan sekadar janji di atas kertas.
Digitalisasi atau Mati: Tantangan di Tengah Keterbatasan
Ketua DPC PDIP Kota Palangka Raya ini, mendorong agar pemanfaatan teknologi digital tidak lagi menjadi opsi, melainkan keharusan. Di tengah sulitnya akses geografis, teknologi seharusnya menjadi jembatan yang memangkas jarak. Namun, ia kembali mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologinya, efektivitas pembelajaran tetap bergantung pada kompetensi sang guru dalam mengoperasikannya.
“Masih ada tantangan besar terkait infrastruktur dan distribusi pendidik. Ini harus menjadi prioritas bersama. Kita butuh guru yang tidak hanya mengajar, tapi juga mampu beradaptasi dengan era digital untuk memicu efektivitas belajar,” tambahnya, memberikan nada edukatif sekaligus memotivasi para pendidik untuk terus bertransformasi.
Komitmen Legislatif: Mengawal Sampai Tuntas
Sebagai lembaga legislatif, DPRD Kota Palangka Raya menyatakan tidak akan tinggal diam. Nenei memastikan bahwa pihaknya akan mengawal ketat setiap kebijakan di sektor pendidikan agar tepat sasaran dan berkelanjutan. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) diposisikan sebagai agenda prioritas yang tidak bisa ditawar lagi.
“Ke depan, kami akan terus mendukung program pendidikan yang berorientasi pada peningkatan kualitas SDM. Ini harga mati untuk menciptakan generasi yang berdaya saing,” tegas politisi perempuan ini dengan lugas.
Menilik Sejarah Ketimpangan
Masalah distribusi guru di Kalimantan Tengah memang menjadi tantangan klasik akibat luasnya wilayah dan aksesibilitas yang sulit. Data menunjukkan bahwa penumpukan tenaga pendidik sering kali terjadi di pusat kota karena fasilitas pendukung yang lebih menjamin.
Ketimpangan infrastruktur yang disorot Nenie menjadi pengingat bahwa pemerataan layanan pendidikan adalah mandat konstitusi yang harus dipenuhi. Tanpa adanya keberanian untuk merombak sistem distribusi guru dan perbaikan fasilitas di daerah terpencil, mimpi Palangka Raya untuk mencetak SDM unggul hanya akan menjadi narasi tanpa makna. Momentum Hardiknas 2026 ini diharapkan menjadi titik balik bagi perbaikan sistemik pendidikan di Kota Cantik.(*)
Tim Newsline: Syamsudin









