PALANGKA RAYA, newsline.id – Di tengah gemuruh sorak-sorai Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut Tahun 2024 silam, kontingen Kalimantan Tengah (Kalteng) berhasil mengukir sejarah meski harus berjuang di bawah bayang-bayang keterbatasan anggaran. Keberhasilan cabang olahraga drumband meraih emas perdana hingga kejutan perak dari dansa sport menjadi bukti nyata bahwa semangat juang atlet Bumi Tambun Bungai tak bisa dinilai sekadar dengan angka di atas kertas daftar isian anggaran.
Prestasi ini menjadi oase di tengah isu efisiensi anggaran yang kini tengah menyelimuti persiapan ajang olahraga daerah selanjutnya. Di saat dana dipangkas demi dalih penghematan, para atlet Kalteng justru membuktikan bahwa dedikasi dan air mata adalah bahan bakar utama untuk mengharumkan nama daerah di kancah nasional, sekalipun dukungan finansial dirasa masih minimalis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, di balik medali yang berkilau, terselip sebuah provokasi nyata bagi para pengambil kebijakan, sampai kapan prestasi harus “mengemis” pada anggaran yang efisien. Para atlet telah menuntaskan janji mereka dengan keringat, sementara di meja-meja birokrasi, nasib pembinaan jangka panjang masih sering kali terbentur pada hitung-hitungan hemat yang justru bisa mematikan potensi tunas muda di masa depan.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data terbaru dari pendaftaran Porprov XIII 2026, meski sudah ada 3.305 atlet yang mendaftar, masih ada daerah seperti KONI Kotawaringin Timur (Kotim) dan Barito Selatan (Barsel) yang tercatat nihil pendaftar. Fenomena ini seolah menjadi alarm keras bahwa efisiensi anggaran yang terlalu ketat mulai menggerus antusiasme pembinaan di tingkat akar rumput.

“Pesan dari pimpinan jelas, tidak ada penundaan, semua harus terselenggara meski dengan dana minimalis. Tinggal pengaturan saja sebaik-baiknya,” ungkap Kepala Dispora Kalteng, Agus Siswadi, menyuarakan optimisme di tengah himpitan efisiensi kepada media online beberapa waktu lalu. Namun, bagi para praktisi di lapangan, “pengaturan” seringkali berarti mengencangkan ikat pinggang hingga ke titik yang menyakitkan bagi kesejahteraan atlet.
Kekecewaan sempat menyeruak saat posisi Kalteng di klasemen PON XXI merosot ke peringkat 32, sebuah penurunan dari posisi 26 di PON Papua. Kritikan pedas pun datang dari berbagai pihak, yang menuntut evaluasi total. Namun, publik juga harus bertanya, adakah prestasi setinggi langit bisa dicapai jika fondasi anggarannya justru terus dipangkas dengan alasan efisiensi.

Gubernur Kalteng saat itu memang telah menunjukkan kepedulian dengan menggelontorkan bonus total Rp1,275 miliar bagi para pahlawan olahraga ini sebagai bentuk apresiasi. Bonus ini adalah angin segar, sebuah pengakuan bahwa perjuangan mereka tetap dihargai. Namun, bonus adalah hilir, yang dibutuhkan atlet adalah kepastian di hulu, yakni proses pembinaan yang tidak terganggu oleh drama defisit anggaran.
Melihat prestasi PON dengan efisiensi anggaran Porprov mendatang adalah tentang melihat masa depan. Jika hari ini kita memuja emas dari drumband, esok kita mungkin akan kehilangan bakat-bakat lain jika pendaftaran atlet di tingkat kabupaten saja masih terkendala koordinasi dan dukungan dana. Hilangnya data atlet dari Kotim dan Barsel dalam sistem pendaftaran digital adalah tamparan keras bagi manajemen olahraga kita.
Sejatinya, olahraga bukan sekadar pertandingan menang atau kalah, melainkan soal harga diri daerah. Efisiensi anggaran jangan sampai menjadi narasi halus untuk menutupi kurangnya prioritas pada pembangunan sumber daya manusia melalui olahraga. Atlet bukan mesin yang bisa dipaksa berakselerasi tanpa bahan bakar yang cukup, mereka adalah manusia dengan mimpi yang butuh dirawat, bukan sekadar diefisiensikan.
Kini, bola panas ada di tangan pemangku kepentingan. Akankah prestasi Kalteng di PON selanjutnya akan kembali menjadi “keajaiban” di tengah keterbatasan, ataukah pemerintah mulai berani menempatkan anggaran olahraga sebagai investasi martabat, bukan sekadar pos pengeluaran yang selalu menjadi korban pertama saat penghematan tiba. Rakyat Kalteng sedang menonton, dan para atlet tetap berlatih meski dalam sunyi.(*)
Tim Newsline








