PALANGKA RAYA, newsline.id – Wajah olahraga Kalimantan Tengah resmi berubah, Federasi Olahraga Domino Indonesia (ORADO) Kalteng melakukan langkah radikal dengan menggelar Pelatihan Wasit (Training of Referee) tingkat provinsi di sebuah hotel mewah di Kota Palangka Raya pada awal Maret 2026.
“Saat ini permainan kartu domino sudah diakui sebagai olahraga nasional. Artinya kita wajib menyiapkan perangkat pertandingan yang benar-benar paham aturan resmi ORADO, bukan sekadar mengandalkan kebiasaan main domino di warung atau rumah,” ujar Ketua Dewan Pembina Pengprov ORADO KALTENG, Rahmat Nasution Hamka di Palangka Raya, Jumat.
Hamka menegaskan bahwa domino kini telah naik kelas menjadi cabang olahraga resmi yang memiliki standar baku. Status tersebut menuntut profesionalisme tinggi dari seluruh pelaku olahraga, terutama wasit sebagai penegak aturan di lapanngan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah ini menjadi sinyal keras bagi masyarakat bahwa era bermain domino tanpa aturan baku telah berakhir, seiring upaya masif transformasi domino menjadi cabang olahraga prestasi yang bermartabat dan diakui secara nasional.
Puluhan peserta dari 14 kabupaten/kota di seluruh “Bumi Tambun Bungai” dikumpulkan untuk menjalani karantina intelektual selama dua hari penuh. Mereka tidak lagi diajak sekadar membanting kartu, melainkan dicekoki pembekalan intensif mengenai regulasi resmi di bawah naungan Pengurus Besar ORADO.
Pelatihan ini mencakup tata cara penilaian yang ketat, identifikasi jenis pelanggaran, etika bertanding, hingga simulasi pengambilan keputusan krusial di meja pertandingan yang selama ini kerap menjadi perdebatan panas di kalangan pemain amatir.
“Domino hari ini sudah naik kelas! Kita wajib menyiapkan perangkat pertandingan yang benar-benar paham aturan resmi ORADO, bukan sekadar mengandalkan kebiasaan main domino di warung atau rumah,” tegas Hamka.
Ketua Kadin Kalteng ini menekankan bahwa status domino sebagai olahraga resmi menuntut profesionalisme mutlak, di mana wasit diposisikan sebagai “hakim agung” lapangan yang tidak boleh kompromi terhadap pelanggaran sekecil apa pun.
Kurikulum pelatihan ini sengaja dirancang secara brutal untuk memperkuat mental, penguasaan teknis, dan kecepatan respons wasit. Hal ini merupakan bagian dari agenda nasional ORADO untuk mencetak perangkat pertandingan berlisensi di seluruh Indonesia. Peserta dituntut mampu meninggalkan ego “pemain jalanan” dan bertransformasi menjadi penegak aturan yang memiliki integritas tinggi, guna menghapus stigma negatif bahwa domino hanyalah aktivitas pengisi waktu luang tanpa arah yang jelas.
Gebrakan ini tak pelak memicu reaksi beragam dari warga dan pegiat komunitas. Rahmat Nasution Hamka sendiri memberikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme peserta yang datang dari pelosok daerah demi mengejar lisensi resmi ini. Baginya, kehadiran wasit bersertifikat adalah harga mati untuk mengawal turnamen domino berjenjang di masa depan. Ia menginstruksikan seluruh peserta untuk menjadi rujukan utama perwasitan di daerah masing-masing guna memastikan standar pertandingan tidak “main-main”.
Tidak berhenti pada pencetakan wasit, Pengprov ORADO Kalteng juga mendorong seluruh pengurus kabupaten/kota untuk segera melakukan sosialisasi aturan resmi kepada atlet dan komunitas lokal. Langkah “jemput bola” ini dinilai sangat krusial agar saat turnamen resmi digelar, para pemain tidak lagi gagap terhadap sistem poin, bentuk pelanggaran, maupun tata tertib pertandingan yang kini sudah terstandardisasi secara nasional melalui sistem skor yang presisi.
Upaya masif di Kalimantan Tengah ini sejalan dengan kampanye nasional bertajuk “Domino Naik Kelas” yang sebelumnya telah digaungkan oleh ORADO saat Deklarasi Nasional dan Rakernas perdana di Jakarta pada awal tahun 2026. Transformasi ini bertujuan untuk membersihkan citra domino dari bayang-bayang perjudian atau aktivitas non-produktif, serta mengukuhkannya sebagai cabang olahraga yang menuntut strategi, konsentrasi, dan disiplin tinggi setara dengan catur atau olahraga otak lainnya.
Pelatihan wasit di Palangka Raya ini merupakan salah satu dari rangkaian tur pelatihan provinsi yang direncanakan oleh PB ORADO di seluruh wilayah Indonesia sepanjang tahun 2026. Kalteng menjadi salah satu titik kunci karena memiliki basis pemain domino yang sangat besar dan fanatik. Keberhasilan pelatihan ini diharapkan menjadi barometer bagi provinsi lain dalam menata organisasi dan perangkat teknis pertandingan di tingkat akar rumput.
Kalangan pencinta domino betkomitmen bersama dari seluruh peserta untuk menjunjung tinggi sportivitas dan integritas di setiap meja pertandingan. Dengan lahirnya para wasit berlisensi ini, domino di Kalimantan Tengah kini resmi memasuki babak baru: dari hobi di sudut gang menuju panggung prestasi yang megah dan profesional. Warganet kini menanti, sejauh mana para “hakim meja” ini mampu mengubah wajah domino di mata publik.(*)
Tim Newsline : Saifullah








