PALANGKA RAYA, newsline.id – Di tengah gempuran budaya instan dan dominasi produk luar, sebuah “anomali” yang membanggakan pecah di jantung Kalimantan Tengah. Sabtu malam (2/5), gelaran Huma Betang Night tidak sekadar menjadi panggung seremonial, melainkan sebuah pernyataan sikap: bahwa adat Dayak bukan artefak masa lalu, melainkan bahan bakar ekonomi masa depan yang mampu mengguncang pasar.
Acara yang dipusatkan di Palangka Raya ini berhasil menyulap filosofi kebersamaan menjadi transaksi ekonomi riil. Ribuan masyarakat tumpah ruah, membuktikan bahwa kolaborasi antara seniman, pelaku UMKM, dan komunitas kreatif lokal mampu menciptakan magnet ekonomi yang jauh lebih kuat daripada sekadar mal modern. Inilah momentum di mana nilai toleransi dan gotong royong khas Dayak dikonversi menjadi rupiah yang berputar cepat di tangan rakyat kecil.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kalteng, Rahmawati, menegaskan bahwa ini bukan sekadar hiburan malam minggu biasa. Huma Betang Night dirancang sebagai instrumen “perlawanan” kreatif untuk memperkuat daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pemerintah tidak lagi hanya bicara teori, melainkan menghadirkan ekosistem di mana pelaku usaha kecil bisa langsung “bertarung” dan menang di kandang sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin memastikan adanya perputaran ekonomi yang nyata. Huma Betang Night adalah bukti bahwa UMKM kita tidak sedang tidur. Mereka sedang bergerak, berinovasi, dan kami memfasilitasi agar pendapatan mereka meningkat secara signifikan melalui interaksi langsung dengan konsumen,” tegas Rahmawati dengan nada optimis saat ditemui di sela-sela keriuhan acara.
Secara provokatif, Rahmawati menantang arus zaman dengan menyatakan bahwa identitas lokal adalah senjata utama. Menurutnya, tanpa akar budaya yang kuat, ekonomi daerah hanya akan menjadi penonton di rumah sendiri. Namun, melalui semangat Huma Betang, kolaborasi inklusif antara pemerintah dan rakyat menjadi fondasi baja yang sulit ditembus oleh persaingan yang tidak sehat.
“Dengan semangat Huma Betang, kita bangun ekonomi daerah yang tidak hanya berakar pada budaya lokal, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan zaman. Kita tidak boleh gagap teknologi, tapi kita juga tidak boleh lupa pada akar. Inilah ekonomi masa depan: modern namun berjiwa Dayak,” tambahnya, membakar semangat para pelaku kreatif yang hadir.

Sepanjang malam, panggung tidak berhenti bergetar. Pertunjukan seni tradisional yang magis berpadu apik dengan musik modern, menciptakan harmoni yang menarik minat generasi milenial dan Gen Z. Di sudut lain, kuliner khas Kalteng yang telah disentuh inovasi kekinian ludes terjual dalam hitungan jam. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar lokal sangat merindukan produk yang memiliki “nyawa” dan cerita di baliknya.
Keberhasilan ini menjadi tamparan keras bagi skeptisisme yang menganggap budaya lokal sulit bersaing secara komersial. Partisipasi masif masyarakat menjadi sinyal kuat bahwa Huma Betang Night telah berevolusi menjadi ikon unggulan baru bagi Kalimantan Tengah. Ini bukan lagi sekadar acara tahunan, melainkan sebuah gerakan sosial-ekonomi yang mendefinisikan ulang cara masyarakat Kalteng berbisnis dan berbudaya.
Acara ini mengajarkan para pelaku UMKM tentang pentingnya pengemasan (packaging) dan narasi produk. Mereka belajar bahwa di era digital, yang dijual bukan hanya barang, melainkan nilai-nilai luhur dan identitas daerah. Inovasi yang ditampilkan menjadi bukti bahwa tradisi bisa berjalan beriringan dengan digitalisasi ekonomi tanpa harus kehilangan jati diri.
Filosofi Huma Betang adalah lambang persatuan di bawah satu atap besar. Dalam konteks ekonomi modern, “atap besar” tersebut adalah ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif. Di sini, tidak ada persaingan yang mematikan, yang ada adalah sinergi di mana satu elemen mendukung elemen lainnya—persis seperti tiang-tiang kayu ulin yang menyokong rumah Betang tetap berdiri kokoh selama ratusan tahun.
Data menunjukkan bahwa sektor UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Dengan adanya Huma Betang Night, Kalteng secara berani mengambil langkah di depan untuk mengintegrasikan pariwisata, budaya, dan perdagangan dalam satu tarikan napas. Jika konsistensi ini terjaga, bukan tidak mungkin Palangka Raya akan menjadi barometer ekonomi kreatif berbasis budaya di tingkat nasional.
Kini, publik menanti langkah selanjutnya. Apakah ledakan kreativitas ini akan terus berlanjut atau hanya menjadi kembang api sesaat? Namun melihat antusiasme yang ada, satu hal yang pasti: semangat Huma Betang telah berhasil membangkitkan “raksasa tidur” ekonomi Kalimantan Tengah untuk bangkit dan berlari kencang mengejar ketertinggalan di tengah arus modernisasi dunia.(“)
Tim Newsline









